Tanda-Tanda Cinta Oleh : El Man Bagian 7

+ posts

Sang jogotirto

Tanda-tanda cinta - El ManHari ini aku akan menjemput adikku di pondok Pakuncen. Ujian sekolah dan pondok telah usai. Kuajak si mbahnya F1ZR berjalan menuju Pakuncen. Sesaampainya di depan dalem kuparkir si mbah di tempat parkir. Aku langsung sungkem pada Abah Komari. Ruang tamu lengang tidak banyak yang sowan. Aku bisa bincang-bincang dengan Abah Komari dengan tanek .

Di sela-sela pembicaraan, seorang santri datang dan matur ,
“ Bah, diesel pondok putri rusak ”, kata santri itu.
“ Kemarin kan baru diservis, masak sudah rusak lagi? ”, tanya Abah Komari.
“ Iya, Bah”,, sahut santri itu.

Rupanya mesin diesel pompa air pondok sudah sering rusak. Mungkin sudah waktunya ganti. Padahal masalah air adalah masalah yang sangat vital dan mendesak untuk diatasi terutama dipondokan atau asrama yang dihuni banyak orang. Macet sehari saja maka seluruh santri tidak bisa mandi seharian.
Aku teringat ada pompa air modifikasi di rumah yang sementara ini belum kupakai. Di rumah ada dua pompa air yang satu sudah kumodifikasi dan yang satu masih asli. Pompa air yang sudah dimodifikasi sementara bisa dipakai untuk membantu pengairan di pondok putri. Air yang bisa dihasilkan dengan pompa yang sudah dimodifikasi sangat besar. Debit air yang dihasilkan bisa mencapai 150 liter permenit dengan daya hanya 125 watt. Pompa aslinya hanya bisa menghasilkan 20-35 liter air permenit. Aku memang suka berinovasi dengan hal-hal yang baru tentu dengan system trial and error dalam prosesnya. Aku belajar ilmu pompa air ini dari pak dhe Masngud, dia sangat mahir soal ini.

Mendengar permasalahan air di pondok putri ini aku coba matur Abah. Maksudku untuk ikut membantu persoalan pengairan pondok putri yang sangat mendesak dengan kuambilkan pompa air yang ada di rumah.
“ Bah, kalau boleh, saya punya pompa air modifikasi di rumah gak terpakai, kalau Abah mengizinkan bisa saya pasang di pondok sini untuk membantu pengairan di sini ”, kataku mengawali pembicaraan.
“ Pondok putri itu kebutuhan airnya banyak lho Mas Hamdan, kalau cuma pompa air saja apa bisa mencukupi? “, jawab Abah Komari
“ Ini bukan seperti pompa biasa itu Bah, pompanya sudah diganti yang besar hampir sama dengan disel kecil “, jelasku.
“ Masak to Mas, memangnya ada pompa yang seperti itu ?”, tanya abah masih kurang percaya.
“ Ada Bah, wong sudah dimodifikasi kok, sudahlah kalau Abah mengizinkan akan saya ambilkan biar jenengan bisa tahu langsung “, desakku
“ Baiklah Mas, silahkan pasang saja biar nanti anak-anak tidak kekurangan air ”.

Pada awalnya Abah Komari ragu dengan tawaranku, namun karena masalahnya sangat mendesak akhirnya Abah setuju dengan tawaranku. Setelah mengantar adikku pulang aku kembali ke pondok membawa pompa air modifikasiku.

Segera aku bergegas menuju tempat pengairan pondok lalu kupasang pompa air modifikasi dan hasilnya, wusss…. grojok grojok… air mengalir begitu banyak sekali hampir menyamai pompa disel. Abah Komari seakan tak percaya melihat hasil kerjaku. Karena keahlianku di bidang yang satu ini lalu beliau memintaku untk menangani pengairan di pondok. Bukan hanya pondok putri saja tetapi juga pondok putra. Untuk itu aku meminta tiga pompa air pondok yang mesinnya masih bagus untuk dimodifikasi. Nanti yang satu untuk pondok putri yang satu untuk pondok putra dan yang satunya lagi untuk persediaan bila nanti ada salah satunya rusak bisa langsung digantikan sehingga pengairan tetap lancar. Abah Komari sangat puas dengan hasil kerjaku. Sejak saat itu aku dikenal sebagai tukang air pondok alias jogotirto.

“ Mas Hamdan tidak merasa gengsi jadi tukang air di sini ?”, tanya Abah Komari, mungkin beliau juga agak merasa tidak enak di hati menyuruhku sebagai tukang air padahal ijazahku sarjana luar negeri Arab Saudi.
“ Oh… tidak Bah, memangnya kenapa harus gengsi, toh tugas ini juga sama pentingnya dengan tugas guru “, tukasku
“ Maksud Mas Hamdan ?” tanya Abah komari
“ Begini Bah, kalau anak-anak pondok tidak bisa bersuci karena tidak ada air, maka bagaimana mereka bisa solat dan menghaji Al-qur’an? Jadi tugas pengairan ini juga akan bernilai ibadah yang tentunya mengandung pahala yang agung juga Bah. Coba jenengan bayangkan, berapa banyak santri di pondok sini yang tiap harinya mereka menggunakan air untuk keperluan ibadah mereka, dari masing-masing santri itu saya tentunya juga akan mendapat bagian dari pahala mereka to Bah. Dengan demikian bukan hanya para ustadz saja yang mendapatkan bagian pahala dari para santriakan tetapi tukang air pondok pun juga dapat bagian Bah “, jelasku mantab
“ O… begitu ya, saya malah yang lupa. Ya sudah kalau memang begitu silahkan jenengan atasi semua masalah pengairan pondok sini Mas Hamdan “,
“ Siap Bah…..”

Libur panjang usai ujian kenaikan kelas telah mulai. Para santri banyak yang pulang kampung. Suasana pondok lengang, hanya beberapa santri saja yang tetap tingal di pondok. Mereka adalah pengurus dan santri senior. Aku bisa leluasa mengecek pipa-pipa air yang mengarah ke kamar-kamar mandi yang berjumlah tujuh belas kamar untuk pondok putri dan lima belas kamar mandi untuk pondok putra. Persoalan pengairan pondok seluruhnya dipercayakan padaku. Untuk itu aku harus mempersiapkan sarana pengairan dengan baik sebelum para santri kembali ke pondok lagi. Aku resmi menjadi sang jogotirto pondok dan seluruh tanggung jawab urusan air ada di pundakku.

Setiap awal tahun ajaran baru jumlah santri pondok meningkat. Para santri mengajak saudara mereka untuk menimba ilmu di pondok Pakuncen. Kebanyakan mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu. Mereka tidak dipungut biaya sama sekali oleh Abah Komari bahkan seluruh santri ditanggung makannya setiap hari secara gratis. Selain seorang kyai Abah Komari juga mubaligh dan thabib kondang. Dari seluruh hasil usahanya itu digunakan untuk ngopeni santri-santrinya. Sungguh kedermawanan yang luar biasa.

Tahun ini jumlah santri ada 973 orang dan kesemuanya dinafkahi soal makanan oleh Abah Komari. Untuk makan sehari saja bisa menghabiskan beras dua kwintal. Bisa dibayangkan berapa besar pengeluaran Abah Komari tiap hari. Beliaulah contoh figur kyai yang patut diteladani oleh para kyai pengasuh pesantren lain. Ada di antara kyai itu yang membuat bisnis dengan makanan para santrinya. Mereka membayar tiap bulan. Hal ini tentu sah-sah saja selama masih dalam kewajaran dan tidak terlalu memberatkan beban wali santri. Bukan semata-mata tujuan bisnis akan tetapi lebih untuk menghidupi pondok.

*****************

Musim liburan telah usai. Para santri mulai berdatangan. Mereka membawa serta saudara-saudara di kampung yang ingin bisa belajar tetapi tidak memiliki biaya. Dari data yang kuperoleh ada 1125 jumlah total santri yang ada di pondok Pakuncen. Aku mengusulkan supaya kamar mandi ditambah lagi lima kamar supaya nanti tidak terjadi antrean yang terlalu lama saat mandi sehingga belajar mereka tidak terlambat. Usulku diterima Abah Komari. Dengan bertambahnya kamar mandi, maka bertambah pula beban tanggung jawabku. Satu hari pompa macet maka ribuan santri akan kalang kabut mandi. Aku harus kerja maksimal. Tiap hari aku harus mengecek saluran air yang ada biar kalau ada kerusakan cepat dapat kuatasi.

Tugas yang baru ini membuat aku sering blusukan ke pondok putra dan putri tiap hari. Banyak para santri yang belum mengenalku. Aku datang saat mereka pulang. Mereka saling bertanya,
“ Siapa kang santri ini kok sering keluar masuk pondok putri ….“
Kujelaskan kalau aku ini adalah jogotirto pondok yang baru dan aku harus sering mengecek pompa juga pipa saluran air biar tidak terjadi kemacetan dan masalah soal air.

Pada awalnya mereka merasa riskan dengan keberadaanku karena sering blusukan di pondok putri. Bagaimana tidak riskan, kadang mereka sedang asyiknya leyeh-leyeh istirahat dengan pakaian santai karena memang berada di arena sesama santri putri tiba-tiba harus terganggu dan bergegas memakai pakaian yang seharusnya dipakai santri putri di luar. Akan tetapi lama kelamaan mereka juga terbiasa. Bahkan akhirnya mereka merasa nyaman karena tiap kali terjadi masalah pengairan aku langsung bisa menanganinya. Malahan ada beberapa santri putri yang mulai menaruh simpati padaku. Mereka saling ngrasani diriku bersama para santri lainnya.
“ Mia, coba kamu liat. Itu mas jogotirto yang baru ini kalau diperhatikan cakep lho”, kata seorang santri pada temannya.
“ Iya bener juga kamu Lia, cakep dan keren gak kalah sama artis sinetron, ah ternyata diam-diam kamu juga perhatian ya sama dia… “, ledek temannya
“ Ssst…. jangan keras-keras Mia, itu masnya ada di sebelah tu, lagi ngecek pipa “, kata santri yang bernama Lia.
“ Ah biarin saja, wong buktinya beneran kan kalau Kamu suka ? “ kata Mia.
Aku hanya senyum saja mendengar dari sebelah kamar mereka. Jangan kan kalian, wong artis cantik Citra ibu kota saja juga suka padaku, gumamku dalam hati. Tapi memang sudah biasa watak bawaan cewek kalau lihat cowok cakep mesti mudah jatuh hati. Kiranya cowok juga sama seperti itu. Kalau ada cewek cantik maunya juga melirik. Aku tak terlalu menghiraukan apa kata mereka. Fokusku hanya pada pengecekkan sarana pengairan. Satu kran kamar mandi saja rusak maka ada puluhan santri yang terganggu mandinya.

Menjadi jogotirto pondok membuatku merasa berguna di salah satu ketrampilan yan kumiliki yakni otak atik mesin pompa air listrik. Walaupun tanpa minta imbalan apapun dari pondok, namun membuat hati dan jiwa ini merasa tenang dan bahagia. Kebahagiaan tidak selamanya harus ditebus dengan harta dan uang. Salah satu pendukung kebahagiaan adalah ketenangan jiwa. Ketenangan jiwa akan mudah didapat mana kala apa yang menjadi keahlian diri bisa tersalurkan di jalan yang tepat. Seorang guru atau orang yang memiliki kelebihan atau keahlian di bidang ilmu dan pengajaran akan merasa tenang mana kala bisa menyalurkan ilmu pengetahuannya dengan mengajarkan ilmu tersebut pada masyarakat.

Mungkin Anda juga menyukai

Anda punya pendapat untuk artikel ini ? Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: