Tanda-Tanda Cinta Oleh : El Man Bagian 6

+ posts

Anak gembala itu sarjana
Tanda-tanda cinta - El ManSebagai pemuda yang tinggal di desa aku berusaha untuk menyesuaikan diri dengan suasana kehidupan desa. Meskipun seorang sarjana aku tidak merasa canggung ikut mencangkul di sawah membantu bapak. Tak lupa kambing-kambingku kubawa serta ke sawah biar mencari makanan rerumputan hijau. Cita-citaku untuk ikut memajukan desa kusalurkan dengan bergabung dalam organisasi kepemudaan karang taruna Tunas Bakti. Kebetulan saat ini sedang ada pergantian pegurus. Teman-temanku minta agar aku mau menjadi ketua. Aku merasa belum siap kalau harus langsung ketua, lagi pula sudah lama aku meninggalkan desaku sehingga banyak perkembangan yang belum kuketahui. Di sana juga ada kakak misanku Imam yang juga sudah tamat sarjana dari IAIN Sunan Ampel Surabaya beberapa tahu yang lalu. Teman- teman memanggilnya dengan sebutan Cak, Cak Im. Panggilan khas ala Surabaya. Ia juga bercita-cita sepertiku memajukan desa. Jabatan ketua akhirnya diamanatkan pada kakak misanku. Aku memegang wakil ketua.

Pergantian ini dilakukan karena sebentar lagi desaku ada tamu mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi universitas Pembangunan Surabaya yang akan mengadakan KKN. Dengan demikian dalam mengahadapi para mahasiswa KKN nanti karang taruna siap karena ketua dan wakilnya juga sarjana.
Aku dan cak Im berniat ikut membangun dan memajukan desa. Mentransfer pengalaman yang didapat dari luar untuk dikembangkan di desa. Dengan demikian desa bisa menjadi lebih maju. Dari sisi ekonomi memang kurang terasa hasilnya akan tetapi kami berdua lebih mengutamakan megadakan perubahan pola pikir masyarakat terutama dalam bidang pendidikan.
Masyarakat desa menganggap bahwa untuk bisa mendapatkan pendidikan tinggi bisa kuliah di universitas harus memiliki banyak uang dan setelah tamat sarjana harus menjadi pegawai. Oleh karena pemahaman tersebut banyak pemuda desa yang tidak melanjutkan sekolah. Kebanyakan mereka hanya tamat SMP atau MTs bahkan ada juga yang tamat SD. Sangat jarang yang meneruskan sampai SMA atau Aliyah apalagi tamat sarjana. Hanya aku dan cak Im saja di desa yang sarjana.

Aku berusaha membenahi pemahaman tersebut dengan kubuat contoh diriku dendiri. Meskipun aku bukan anak orang kaya tapi aku bisa kuliah bahkan sampai ke luar negeri tanpa harus membebani orang tuaku. Asal ada kamauan yang kuat pasti Alloh akan memberi jalan man jadda wajada . Kalau cak Im memang anak orang kaya. Walau orang tuanya kaya tetapi cak Im tidak selalu minta uang dari orang tuanya. Ia lebih suka mencari uang sendiri di sela-sela kuliahnya. Setelah tamat sarjana dari IAIN Surabaya ia juga tak canggung-canggung turun ke sawah seperti umumnya masyarakat desa. Apa yang kulakukan dengan cak Im ini semata-mata untuk membuka dan memperbaiki pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.

Aku membantu bapak bekerja di sawah dan memelihara kambing-kambingku. Kambing barokah yang kupelihara sejak masih duduk di bangku MTs. Kambing-kambing itu adalah amanah dari orang tua asuhku dari kediri. Dulu aku diambil anak asuh oleh keluarga yang dermawan di Kediri.
********************
Waktu itu aku masih duduk di bangku SD. Ada kelompok mahasiswa dari UNAIR Surabaya yang mengadakan KKN di desaku. Sebagian kegiatannya adalah mengadakan mengadakan pembinaan terhadap anak-anak desa. Menjelang waktu KKN berakhir diadakan lomba-lomba, lomba adzan, pidato,dan hafalan surat-surat pendek juz ‘Amma. Dalam lomba-lomba tersebut aku selalu menjadi juara baik pertama atau kedua. Waktu itu juga bertepatan aku selesai menghadapi ujian Ebtanas SD. Wal hasil nilai danemku tercatat sebagai yang terbaik tingkat SD sekecamatan. Dengan prestasi itu semestinya aku bangga. Anak pamanku yang hanya rangking tiga kelas saja senangnya bukan main. Orang tuanya tak kalah bangganya ia dibelikan hadiah sepeda baru. Akan tetapi tidak denganku. Dengan prestasi itu aku biasa-biasa saja karena tidak ada hadiah dari orang tua dan juga tidak ada harapan bisa sekolah lagi di SMP atau MTs.

Orang tuaku memang tergolong miskin. Untuk makan sehari-hari saja pas-pasan. Sejak kelas empat aku sudah bisa kerja di sawah penduduk desa. Upahnya kutabung untuk membeli peralatan sekolah. Aku juga memelihara kambing milik tetangga. Bila kambing itu beranak maka anaknya di bagi dua dengan pemiliknya.

Seminggu sebelum perpisahan salah satu mahasiswa KKN bernama mas Heru datang menemuiku di depan SD dan bertanya padaku,
” Dik Hamdan nanti setelah SD mau sekolah kemana? ”,
Dengan polos kujawab, ” Tidak sekolah Kak ”.
“ Lho, kok tidak sekolah, terus dik Hamdan mau apa ”,
“ Angon kambing Kak ”,
Mas Heru agak terkejut dengan jawabanku yang polos lalu ia bertanya lagi,
” Kok angon kambing, dik Hamdan nilainya kan bagus, dik Hamdan bisa masuk ke SMP favorit nanti ”,
Karena pemikiranku masih anak-anak maka akupun berkata polos,
” Sebenarnya saya juga ingin sekolah lagi kak, akan tetapi bapak ibuku tidak bisa membiayai sekoalah di SMP jadi saya angon kambing sambil membantu kerja di sawah Kak ”.
Mendengar jawabanku air mata mas Heru mengalir membasahi pipinya. Ia memandangiku dengan pandangan belas kasihan. Ia diam sejenak tidak berkata apa-apa. Melihatnya menangis aku ganti bertanya dengan lugu,
” Kenapa kak Heru menangis, apa saya salah Kak? ”.
Ia tidak menjawab tetapi ia merangkulku air matanya menetes di pundakku. Agak lama aku dipeluknya. Aku masih belum tahu maksudnya. Setelah menyeka air mata lalu aku diantar pulang dengan naik motor vespa. Baru kali ini aku merasakan naik motor. Maklum, jangankan punya, pegang saja tidak pernah. Walaupun paman punya motor tetapi aku tidak pernah dibonceng. Aku juga tidak ingin minta bonceng. Orang tuaku membiasakan aku supaya menerima dan menikmati apa yang kupunya tidak mudah iri dengan kepunyaan orang lain. Aku hanya punya sepeda mini yang tinggal ada roda dan rangkanya saja. Itupun juga pemberian paman yang sudah tidak dipakai oleh anaknya. Hari itu aku berangkat sekolah berjalan kaki karena ban sepedaku kempes dan bapak belum bisa membelikan ban. Jarak rumah ke sekolah sekitar tiga kilo meter. Aku terbiasa jalan kaki bersama teman-teman ke sekolah.

Setibanya di rumah mas Heru menanyakan apa-apa yang kukatakan tadi. Ibuku membenarkan semuanya. Mas Heru lalu berkata kepada ibuku,
” Bu, kalau tidak keberatan Hamdan akan saya ajak ke rumah saya di kediri ”,
“ Untuk apa mas kok anak saya mau dibawa?”, tanya ibuku dengan wajah kawatir.
“ Ibu jangan kawatir, saya akan membawa dik Hamdan biar sekolah di Kediri tinggal dengan keluarga saya di sana ”, jelas mas Heru.
” Bagaimana dengan biayanya Mas? ”,
“ Ibu jangan memikirkan soal biaya, semua nanti akan ditanggung keluarga saya ”.

Sebenarnya ibu agak keberatan aku dibawa ke kediri akan tetapi mas Heru terus mendesak ibuku akhirnya aku diizinkan ikut mas Heru ke Kediri.
Mas Heru adalah mahasiswa kedokteran di UNAIR surabaya. Orangnya baik hati. Sifatnya peramah. Setiap kali bertemu dengan orang yang dikenalnya selalu disapa tak peduli itu anak-anak juga disapa. Ia calon dokter kelak kalau sudah tamat kuliahnya.
Aku disuruh siap-siap dan ganti baju. Siang itu juga aku diajak mas Heru pergi ke rumahnya di Kediri untuk diperkenalkan dengan keluarganya. Sepanjang perjalanan kunikmati enaknya naik motor. Sampai di depan pintu gerbang yang kokoh mas Heru menghentikan vespanya lalu ia memarkir Vespanya di depan gerbang.

Dibukanya gerbang itu. Aku tercengang melihat pemandangan di depanku. Ternyata keluarga mas Heru sangat kaya raya. Rumahnya megah halamannya luas dihiasi taman yang ditanami bunga bermacam-macam, baunya semerbak mewangi. Pohon buah juga ditanam rapi berjajar menambah sejuk segar udaranya. Di samping rumah ada garasi. Kulihat ada tiga mobil diparkir rapi.

Aku semakin termenung melihat semuanya. Di desaku tidak ada orang yang sekaya ini. Pak haji Syakur orang yang dianggap paling kaya hanya punya dua motor, itupun tidak setiap orang bisa menginjakkan kaki di halaman rumahnya. Hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk seperti pak lurah, pamong desa atau orang-orang yang selevel boleh masuk rumahnya. Orang yang tidak punya dan anak kecil sepertiku tidak boleh masuk rumahnya.

Aku terbangun dari bengongku setelah mas Heru menggandeng tanganku.
” Ayo dik Hamdan masuk jangan takut ”, kata mas Heru melihatku agak ragu masuk. Aku melangkah di belakang mas Heru. Sambil berjalan dengan perasaan yang bercampur aduk antara percaya atau tidak, antara nyata dan mimpi aku bergumam dalam hati. Mungkinkah aku akan tinggal di istana ini?.
“ Assalamu’alaikum ”, ucap mas Heru di depan pintu. “ Wa ‘alaikum salam ”, jawab ibu mas Heru dari dalam rumah. Pintu dibuka aku diajak masuk rumah. Luar biasa indahnya ruang tamu ini. Aku belum pernah menginjakkan kaki dalam rumah sebesar dan seindah ini.

Aku dipersilahkan duduk di sofa sebelah selatan menghadap utara. Ada tiga unit sofa dalam ruang tamu yang besar itu. Semua tertata rapi. Rasanya empuk. Tidak seperti lincak yang ada di rumahku. Keras kalau istirahat tidur di atasnya ada cap bekas bambu di punggung. “ Ini siapa Heru? ”, ibu mas Heru menanyakan tentang aku. Mas Heru lalu menceritakan sedikit tentang siapa dan bagaimana hidupku kemudian aku diperkenalkan dengan orang tua dan adik-adiknya. Ternyata semua keluarga mas Heru baik dan ramah seperti dia. Mekipun kaya raya tetapi mereka tidak sombong.
Aku diambilkan minuman jus mangga dari lemari pendingin. Kucicipi, Cessss….. dingin rasanya. Segar rasa setelah jus mangga mengalir di tenggorokanku. Baru kali ini aku merasakan nikmatnya minuman jus yang selama ini hanya bisa kudengar di radio atau melihat iklan di TV atau penuturan teman-teman yang sudah sering dibelikan orang tuanya. Aku belum pernah sama sekali mencicipi apalagi meminumnya sebelum ini.

Selesai solat jama’ah dzuhur aku diajak makan siang bersama. Aku bingung mau pilih yang mana. Banyak lauk pauk tersedia di meja makan. Ada ikan bakar, ayam panggang juga gulai kambing semua lezat. Selera makan keluarga mas Heru berbeda-beda jadi lauk yang ada itu sesuai dengan selera mereka masing-masing. Aku dipersilahkan mengambil mana yang kusuka. Kalau soal suka semua hidangan itu aku suka. Akan tetapi aku tidak mungkin mengambil semuanya atau mencampur adukkan hal ini tentu sangat tidak sopan. Aku masih ingat adab makan dan minum dalam pelajaran agama di sekolah dan berusaha menahan diri. Walau dalam hati ngiler terhadap makanan itu. Lalu aku ikuti saja apa yang diambil mas Heru, ikan bakar. Mas Heru menyuruhku untuk mengambil lagi.

Sebenarnya melihat lezatnya semua makanan ini aku mau nambah. Makan ala restoran dengan gratis. Tetapi aku tidak mau sudah kenyang rasa perutku. Setelah makan siang aku dipersilahkan istirahat tidur di kamar. Kasurnya tebal dan empuk begitu kurebahkan tubuh langsung tenggelam dalam kasur. Akupun tenggelam dalam mimpiku. Jam empat sore setelah ashar aku diantar pulang kerumahku lagi. Kuceritakan semuanya pada bapak ibuku.

Seminggu kemudian aku dijemput oleh keluarga mas Heru ke rumahku dengan membawa mobil sedan. Sanak saudara tetangga dan teman-teman bermainku berkumpul di rumahku untuk melepasku. Aku pamit pada bapak ibu, juga tetangga dan teman-temanku. Ibuku merangkulku erat-erat air matanya menetes membasahi pundakku seakan tak tega melepaskanku, pipiku diciuminya dengan air mata yang terus mengalir.Begitu pula para tetangga dan teman-temanku mereka melepas keperhianku dengan deraian air mata haru.
*************
Petruk jadi raja. Sebuah pepatah jawa mengatakan. Seorang anak gembel yang tiba-tiba mendadak menjadi anak orang kaya raya dengan cara hidup yang tertib dan rapi dengan segala fasilitas yang serba ada. Beberapa hari aku masih agak kesulitan beradaptasi dengan suasana kehidupan yang baru ini. Setengah bulan aku belajar adaptasi sambil menunngu pendaftaran masuk SMP.

Oleh keluarga mas Heru yang juga orang tua asuhku aku didaftarkan di SMPN 1 Kediri sekoalah paling favorit di kota ini. Alhamdullah diterima karena danemku cukup tinggi. Seperti layaknya anak orang kaya, aku dianter jemput dengan mobil ke sekolah. Sehari dua hari aku sangat senang karena sedikit bisa merasakan bagaimana enaknya menjadi anak orang kaya sekolah yang biasanya hanya kulihat di TV saja. Teman-teman di sekolahku yang baru ini kebanyakan juga diantar jemput mobil. Mereka memang anak orang yang berada.

Dalam pergaulan di skolah aku juga beradaptasi. Dari tata pergaulan anak desa yang serba apa adanya dengan pergaulan yang serba ada dan tertata. Dalam pergaulan ini aku tidak mau larut dalam cara hidup mereka. Kuambil cara pandang dan belajarnya saja yang sangat maju. Aku sadar bahwa aku bukanlah anak orang kaya seperti mereka. Kalau sampai hanyut dalam pola hidup mereka aku sendiri yang akan merugi kelak. Dengan cara antar jemput ini aku merasa tidak enak.

Di sini aku disekolahkan dibiayai tapi masih diantar jemput. Aku minta dibelikan sepeda saja. Pada mulanya orang tua asuhku tidak setuju mereka kawatir akan terjadi sesuatu di jalan. Maklum di kota kendaraan padat orang asuhku mengkawatirkan apabila naik sepeda sendiri bisa jatuh terabrak kendaraan. Aku berusaha meyakinkan orang tua asuhku kalau akau bisa berhati-hati. Akhirnya aku dibelikan sepeda baru buat ke sekolah. Jarak sekolah dan rumah baruku Cuma lima kilo meter saja, jarak yang menurutku tidak begitu jauh bisa ditempuh dua puluh menit dengan bersepeda. Selama sekolah SD di kampung jarak tiga kilo meter sudah biasa kutempuh jalan kaki bersama teman-teman.

Waktu terus berlalu. Setahun sudah aku tinggal bersama keluarga kaya di Kediri. Aku rindu keluarga dan teman-teman di kampung. Bermain gobak sodor, jumpritan, sambitan layangan atau bluron di kali dengan teman-teman. Aku rindu dengan semuanya itu. Di Kediri aku bak anak raja tidak bebas kemana-mana. Waktuku terjadwal untuk belajar dan belajar saja tidak ada waktu untuk bermain. Lagi pula aku juga tidak punya teman di sekitar rumahku. Anak kecil di rumah hanya aku saja. Adik mas Heru yang paling kecil sekolah SMA di Malang kota. Ia tinggal di rumah sana.

Di rumah sepi hanya aku dan kedua otang tua dan pembantu saja. Bila aku kangen dengan bapak ibu di kampung air mataku meleleh konsentrasiku bubar dan aku tidak bisa belajar. Takut rasanya untuk mengutarakan maksud hati untuk pulang kampung. Karena menahan perasaan itu akhirnya aku jatuh sakit tidak bisa berangkat sekolah hingga seminggu. Beruntung ujian semester sudah selesai jadi tidak ada efek negatif terhadap prestasi belajarku. Orang tua asuhku sudah memanggil dokter untuk mengobatiku namun sakitku tidak juga sembuh. Akhirnya mereka hendak membawaku ke rumah sakit tapi aku bersikukuh tidak mau. Dengan keadaan seperti ini baru aku berani mengutarakan maksudku untuk pulang ke rumah orang tuaku di kampung. Aku minta diantar pulang. Sebelum pulang terlebih dahulu aku diperikasakan kembali ke dokter untuk mendapatkan obat.

Sampai di rumah orang tuaku mendadak badanku terasa enak rasa sakit sudah tidak terasa lagi. Orang tua asuhku menceritakan keinginanku untuk pulang. Bapak ibuku memang sejak awal sebenarnya agak kebaratan aku dibawa ke Kediri namun karena pertimbangan biaya sekolah akhirnya dengan berat hati mereka melepaskanku. Aku minta untuk pindah sekolah di Nganjuk saja. Orang tua asuhku ganti yang keberatan dengan keinginanku, mereka takut aku tidak bisa sekolah lagi. Namun karena aku terus mendesak akhirnya orang tua asuhku membolehkan. Aku minta pindah sekolah di MTsN Nganjuk saja. Untuk biaya sekolah aku diberi uang untuk dibelikan seekor kambing betina.

“ Hamdan, kalau kamu pindah di Nganjuk maka ibu tidak bisa membiayaimu seperti di Kediri. Akan tetapi ibu belikan kamu kambing nanti kamu rawat baik-baik ya. Kalau beranak nanti anaknya bisa kamu buat beli buku dan bayar sekolahmu. Ibu do’akan kambingmu nanti barokah Nak. Ibu minta maaf Hamdan bukannya ibu pelit akan tetapi supaya kamu bisa belajar mandiri tidak merepotkan orang tuamu. Nanti jangan sampai kamu jual semua tinggalkan satu induknya biar bisa berkembang lagi”, kata ibu asuhku.

Begitulah kambing-kambingku tetap kupelihara sampai saat ini lulus sarjana dari Saudi. Benar kata ibu asuhku. Kambing-kambing yang kupelihara selama ini bisa kubuat biaya sekolahsampai tamat Aliyah sekaligus juga tamat pendidikan pesantren bahkan untuk membiyayai sekolah adik-adikku. Dengan kambing-kambing itu aku juga bisa membantu kebutuhan keluarga. Sepulang dari Saudi aku tetap memelihara kambing-kambing itu. Lantaran kambing-kambing itulah Alloh memberi jalan aku bisa sekolah.

*******************
Sebulan pertama sejak pulang dari Saudi adalah hari-hari yang berat bagiku. Masyarakat desa mulaImencibir bahkan mengejekku dengan omongan “Sarjana luar negeri kok angon kambing ”. Panas rasanya mendengar ocehan masyarakat di telinga akan tetapi memang itulah kenyataannya. Aku memang sarjana luar negeri yang setiap hari membawa kambing-kambingku ke sawah. Aku berusaha tetap sabar. Aku ingat pada temanku sarjana di sebelah desa juga mendapat ejekan dari masyarakat desa. Dia seorang sarjana tehnik. Setelah tamat ia juga angon sapi. Semua orang mencibir dan mengejeknya. Dia tetap tAbah menghadapi semua ejekan itu. Setiap hari ia menyeberangi sungai bersama sapi-sapinya. Suatu saat ada pendaftaran TNI ia mendaftarkan diri dan diterima dengan ijazah sarjananya ia memperoleh pangkat Letnan. Sekarang si anak gembala sapi itu menjadi perwira TNI. Masyarakat kecele dan sadar akan kelebihan yang dimiliki orang yang berpendidikan itu.

***********
Menurut kabar dari pak Lurah rombongan mahasiswa KKN dari niversitas Pembangunan Surabaya akan datang hari ini. Base camp yang ditempati adalah salah satu rumah pamanku. Para pemuda desa merasa kurang pede menghadapi mahasiswa-mahasiswa itu. Mereka merasa minder berinteraksi dengan para mahasiswa dikarenakan pendidikan mereka yang rendah tidak mumpuni untuk komunikasi dengan para mahasiswa.

Para mahasiswa berusaha mendekati pemuda desa. Karena terbiasa dengan ungkapan-ungkapan ilmiah di kampus, mereka sering mengucapkannya ketika berkomunikasi dengan para pemuda sehingga banyak yang tidak sambung. Lain halnya dengan aku dan cak Im. Aku sudah terbiasa dengan omongan ala kampus. Jadi bagiku ucapan-ucapan itu biasa saja. Toh aku juga sudah tamat sarjana sedangkan mereka masih baru menginjak tingkat empat. Dalam berkomunikasi mereka sangat nyambung denganku. Namun aku tetap berusaha menghindari pemakaian istilah asing sehingga jati diriku seorang sarjana tetap tertutup. Mereka tetap menganggapku sebagai pemuda desa biasa yang mungkin hanya tamatan SMP.
Mahasiswa-mahasiswa dari kota yang sedang KKN di pelosok daerah biasanya mereka menganggap masyarakat desa itu awam sehingga mereka merasa dirinya di atas segalanya dalam urusan IPTEK . Memang benar dari omongan mereka kadang menggunakan bahasa asing ketika mereka guyonan yang isinya meremehkan atau mengejek masyarakat. Dengan begitu masyarakat tidak mengerti kalau mereka diejek walau itu dalam guyonan.
Pernah suatu saat aku membawa kambing-kambingku ke sawah melewati base camp KKN, ada sebagian mahasiswa duduk-duduk di teras sambil minum kopi.Mereka bergurau dengan sesama teman mahasiswa mengataiku,
” Joni, look that boy, he is like an american boy ”,
Disahut temannya,
” May be he like film coboy america, but here he is a sheep boy ”.
Kemudian tertawa meledak di antara mereka. Aku pura-pura tidak ngerti. Kusapa mereka dengan sopan tiap kali aku melewati base campnya. Kutunjukkan mereka sopan santun dalam berbicara.
Aku menjadi akrab dengan para mahasiswa itu. Mereka sesekali diajak mampir di base camp. Mereka mengajakku ngobrol sambil minum kopi. Aku bisa mengimbangi semua apa yang mereka bicarakan dengan ungkapan-ungkapan yang lugu dan terkesan ndeso. Kadang juga menggunakan istilah ilmiah seperti mereka tapi kukemas dalam bahasa yang sederhana. Dengan demikian aku menjadi jembatan penghubung komunikasi antara pemuda desa ddengan mahasiswa KKN.

Saat aku pulang dari sawah seorang teman pemuda memintaku untuk mengajak ngopi bersama di warung mbah surip tempat para pemuda nongkrong. Mereka juga ingin bisa kenal akrab dengan para mahasiswa. Acara ngopipun berjalan lancar dan hubungan antara pemuda dengan mahasiswa terjalin akrab. Hal ini merupakan hubungan timbal balik yang mutualisme. Bagi pemuda dengan berinteraksi dengan para mahasiswa bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Sedangkan bagi mahasiswa keakraban yang terjalin itu bisa mempermudah mereka dalam menjalankan program-program yang sudah direncanakan karena para pemuda akan bisa membantu mereka. Akupun tetap berusaha menutupi kesearjanaanku di hadapan para mahasiswa. Biarlah mereka tetap menganggapku sebagi pemuda desa biasa yang lugu. Kalau mereka sampai tahu aku seorang sarjan aku takut mereka akan sungkan terhadapku.
Pernah suatu saat seorang mahasiswi bertanya padaku,
” Mas Hamdan ini sebenarnya tamatan apa sih, kayaknya mas banyak tahu tentang dunia luar, jangan-jangan mas Hamdan ini seorang sarjana ya? ”,
“ Saya dulu tamatan MTs Mbak ”, kataku.
Aku tidak berkata bohong tapi memang aku dulu tamatan MTs, hanya saja aku tidak menyebutkan kalau aku meneruskan sekolah sampai sarjana.
“ Dari bahasanya mas Hamdan ini kayaknya seorang sarjana deh, buktinya dengan pengetahuan luar mas Hamdan banyak tahu”,
“ Saya sering nonton berita TV Mbak, jadi banyak tahu tentang dunia luar ”.
Guna memperlancar program KKN para mahasiswa mengadakan pertemuan bersama pemuda di rumah bapak Kamituo . Kami semua duduk lantai. Para pemuda duduk di sebelah barat dan para mahasiswa duduk di sebalah timur. Aku, cak Im, bapak Kamituo dan ketua rombongan KKN duduk di sebelah selatan menghadap hadirin. Rencana program KKN mendapat dukungan sepenuhnya dari para pemuda. Seorang mahasiswi berbaju biru bertanya,
” Maaf pak Kamituo, apa benar kabarnya pemuda desa sini itu hanya tamat SD dan SMP saja? ”,
Kamituo menjawab,
” Iya Mbak, memang kebanyakan pemuda sini tamatan SD dan SMP hanya beberapa saja yang tamat SMA ”,
” Tapi dari komunikasi kami dalam banyak hal, di antara mereka ada yang memiliki pengetahuan lebih ”,
“ Oo.. memang mbak, di antara para pemuda sini itu juga ada yang sudah tamat sarjana ”,
” Haa ….sarjana Pak? ”,
Mahasiswa yang berbaju biru itu keheranan.
“ Iya mas Toni, malahan ada juga yang tamatan sarjana luar negeri ”, imbuh pak kamituo.
Aku dan cak Im senyum kecil.
“ Cak, penyamaran kita bakal terbongkar nih”, bisikku.
“ Biarkan saja asal bukan kita yang bilang kalau kita sarjana”, jawab cak Im juga dengan berbisik.
“ Sarjana luar negeri pak? siapa orangnya? ”, tanya mahasiswi berjilbab ungu agak terperanjat.
“ Ketua karang taruna mas Imam atau yang sering dipanggil cak Im ini sarjana IAIN surabaya, lha mas Hamdan wakilnya itu tamatan sarjana Arab Saudi ”, kata pak kamituo sambil menunjuk kearahku dan cak Im.
Semua mahasiswa peserta KKN mengarahkan pandangannya ke arahku. Aku hanya senyum kecil begitu pula dengan cak Im.
“ Masya Alloh.. jadi mas Hamdan yang kita kenal penggembala kambing ini seorang sarjana luar negeri, pantas saja waktu bicara bahasanya lain, biar sederhana tapi ilmiyah ”, kata mahasiswi berjilbab ungu.
“ Toni, ternyata anak gembala yang sering kamu katai macam-macam ini sudah tamat kuliah, Dia lebih senior ketimbang kamu, kamu harus minta ma’af sama dia, nanti kamu bisa kualat lho ”, celetuk mahasiswi berkaca mata.
Mahasiswa yang bernama Toni itu lalu berkata,
” Ya mas Hamdan, kami minta ma’af. Mas Hamdan dan cak Im selama ini kami sering mengatai pemuda desa sini dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh orang yang berpendidikan tinggi. Kami sangat salut pada kalian, walaupun sudah menyandang gelar sarjana tetap menghargai adat ketimuran. Kalian sarjana tetapi tidak canggung-canggung untuk melakukan pekerjaan kasar seperti masyarakat pada umumnya. Kebanyakan orang yang tamat sarjana mereka tidak mau melakukan pekerjaan itu ”.

“ Mahasiswa dan siswa sekolah mulai SD sampai SMA itu sama saja. Hanya jenjang pendidikannya saja yang beda. Tapi tugas utamanya sama yaitu belajar menuntut ilmu buat bekal masa depan. Sarjana hanyalah gelar akademik yang berikan oleh perguruan tinggi. Sarjana dan bukan sarjana itu sama saja. Bukan gelar sarjana yang penting, akan tetapi pola pikir dewasa dan mau berubah untuk maju itulah yang paling penting. Berapa banyak orang yang menyandang gelar sarjana tetapi pola pikirnya masih kekanak-kanakan ber sifat cengeng, egonya sangat tinggi dan mudah menyerah, begitu pula sebaliknya, banyak orang yang hanya tamat SMP bahkan tidak tamat SD, akan tetapi karena pola pikirnya bagus mau menerima masukan dari orang lain yang memiliki pengetahuan lebih darinya sehingga ia lebih dewasa dan maju dari pada sarjana tadi. Dalam kehidupan bermasyarakat bukan gelar yang menjadi pandangan orang, akan tetapi pola pikir dan tutur kata yang akan mengangkat derajat seseorang ”, kataku mantap .
Semua yang ada diruangan itu mendengarkan dengan seksama apa yang kusampaikan.
Para mahasiswa kulihat tertunduk. Sesekali mahasiswi berjilbab ungu memandang ke arahku. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Sebenarnya aku tidak ada maksud menggurui mereka. Aku hanya ingin memberi sedikit wawasan soal dunia pendidikan bagi para pemuda biar tidak merasa rendah karena jenjang pendidikan mereka yang berada di bawah mahasiswa. Sedangkan bagi para mahasiswa ucapanku tadi bisa membuat mereka tidak merasa tinggi hati karena jenjang pendidikan yang mereka tapaki sehingga tidak memandang rendah terhadap anak yang tidak kuliah.

Sejak pertemuan di malam itu hubungan antara mahasiswa KKN dan para pemuda terjalin semakin akrab. Mereka saling berkunjung ke base camp dan rumah para pemuda. Para mahasiswa juga sering datang ke rumahku yang sangat sederhana berdinding gedek dan hanya ada kursi lincak dari bambu. Walaupun sederhana tetapi mereka sangat nyaman dan betah berada di rumahku. Mereka berdiskusi tentang banyak hal denganku terutama masalah ilmu agama. Hingga tiba saatnya mereka selesai masa tugas KKN mereka merasa berat meninggalkan desaku yang sudah banyak memberi wawasan yang tidak mereka dapatkan di bangku kuliah.

Para warga desaku juga sedah menanggap mereka seperti anak sendiri. Mereka banyak mendapat pengetahuan baru tentang cara pengolahan tanah pertanian seperti pengukuran PH tanah dengan alat PH meter yang di bawakan oleh mahasiswa KKN. Juga mendapatkan banyak pengetahuan tentang cara pemupukan yang berimbang sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman menjadi maksimal.

Mungkin Anda juga menyukai

Anda punya pendapat untuk artikel ini ? Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: