Tanda-Tanda Cinta Oleh : El Man Bagian 5

+ posts

Sowan kyai

Tanda-tanda cinta - El ManSeminggu sudah aku di rumah. Hari ini aku berniat sowan romo kyai Manshur di pondok Mojosari tempat aku mencari ilmu sebelum aku ke Saudi. Aku mencari waktu yang tepat untuk sowan di mana romo Kyai punya waktu yang longgar. Aku berusaha sampai di Mojosari jam 07.00. pagi. Karena romo Kyai biasannya mudun langgar jam 07.30 pagi setelah sejak subuh ngaji sorokan alqur’an. Romo Kyai Manshur merupakan sosok kyai kharismatik uswatun hasanah bagi semua kalangan santri dan masyarakat sekitar pondok.

Bagi kaum petani Romo Kyai menjadi teladan karena beliau juga bercocok tanam di sawah. Beliau memiliki sawah yang cukup luas. Dalam menggarap sawah tentu bukan romo sendiri yang melakukan. Para santrilah yang rok’an menggarap sawah. Dulu aku sering ikut rok’an di sawah mulai dari macul mluku tandur sampai panen para santri putra yang mengerjakan semua. Mereka tak pernah diperintahkan oleh romo kyai akan tetapi mereka yang tahu diri dan ikhlas untuk rok’an sebagai bentuk bakti mereka pada Kyai. Dulu aku dan teman-teman santri sering dipasangi seperti sapi untuk menarik luku atau bajak secara bergantian. Sekarang sudah zaman traktor apakah teman-teman santri juga masih suka dipasangi atau tidak. Tak lupa ku bawakan oleh-oleh makanan ringan yang banyak buat teman-teman lamaku di pondok.

Romo kyai Manshur adalah sosok yang sangat istiqomah. Mulai subuh beliau sudah berangkat ke langgar pondok sambil membangunkan para santri. Beliau memukulkan tongkatnya ke dinding jendela dan pintu kamar-kamar santri sambil berkata, ” Co..Co.. . tangi Co. Ayo tangi.. subuh… subuh…”. Suara beliau memang pelan akan tetapi bisa didengar hampir semua santri dalam komplek pondok. Suara beliaulah yang setiap hari selalu kudengar. Kamarku berada di komplek Tulungagung kamar B.2 yang kebetulan berada tepat di sebelah jalan masuk romo Kyai. Jadi pintu kamar dan jendelaku yang pertama kali ketuk romo Kyai. Usai jama’ah solat subuh para santri ngaji sorokan langsung pada beliau. Biasannya sampai jam 07 pagi. Setelah itu romo Kyai solat dhuha bersama santri.

Jam 07.20 kulihat romo Kyai sudah mudun keluar dari langgar. Aku mengiringi dengan jarak tiga meter di belakang sampai beliau masuk dalem aku berhenti berdiri di dekat pintu.

“ Assalamu alikum ”. Sambil menata duduknya beliau menjawab, ” Wa ‘alikum salam”.
Aku langsung duduk bersimpuh sungkem pada beliau. Kucium tangan beliau dengan penuh ta’dzim.
“ Sopo Co ? ”, beliau bertanya kepadaku.
Aku tidak tahu apa beliau pangling atau sekedar untuk mengujiku.
” Kulo Hamdan Romo ? ”,
“ Oo.. Hamdan sing lungo neng Arab Saudi kae ? ” ,
” Injeh ” , jawabku singkat dan pelan.
Lalu romo kyai meneruskan pertanyaan,
” Piye, wis mari olehmu sekolah ? ” , romo Kyai tidak mengatakan kuliah tapi tetap memakai istilah sekolah.
” Sampun Romo ”,
” Lha kapan mulehmu teko Arab? ” ,
“ Seminggu kapengker Romo ”,
“ Yo Nek wis mari leh sinau, ngilmune diamalke ben manfaat barokah. Neng ngendi-endi ae sing akeh-akeh leh moco istighfar lan solawat, ben mbesuk oleh syafaat teko kanjeng Nabi ” .
Lalu aku minta barokah do’a kemudian pamit mohon diri. Tak lupa sebagai adat seorang santri kubawakan oleh-oleh untuk romo Kyai.

Aku mengunjungi teman-teman santri yang masih ada di pondok. Banyak teman-teman santri yang masih tetap betah tinggal di pondok. Bahkan ada santri yang sampai tua dan tidak ingin pulang. Pondok seakan sudah menjadi rumah yang nyaman baginya. Banyak para santri yang menetap di pondok hingga puluha tahun. Mereka bukan semata-mata untuk mengaji saja namun juga ngalap berkah di pondok. Mereka senang sekali aku masih mau main ke pondok. Tak lupa jajan yang kusiapkan kuberikan semua kepada mereka. kemudian teman-teman santri yang senior kuajak ngopi di warung pondok sambil ngobrol cerita kesana kemari soal belajarku di Saudi dan candaan lainnya. Aku juga sesekali menanyakan soal teman-teman seangkatan. Kebanyakan mereka sudah pulang ke daerahnya masing-masing.

Santri di pondok Mojosari memang unik, tiap kali ada tamu yang datang selalu ditanyai tentang jajan bawaan. Kalau tidak membawa jajan kadang dikerjain rame-rame. Bukan disakiti akan tetapi hanya sekedar gurauan saja. Kalau sang tamu pulang maka mereka mengantarnya sampai ke jalan, layaknya seperti menghormati tamu di rumah.

Para santri dari Mojosari banyak yang menjadi kyai besar di daerahnya. Seperti kyai Jazuli pendiri pondok pesantren Al-Falah Kediri, kyai Mustaqim pondok Peta Tulungagung, bahkan kyai Wahab Hasbullah yang juga turut serta membidani lahirnya organisasi keagamaan sebesar NU juga pernah jadi santri di pondok Mojosari. Walaupun pondoknya terbilang kecil namun dari sini lahir tokoh-tokoh besar yang sangat berpengaruh di negeri ini.

Dari Mojosari aku melanjutkan perjalanan untuk sowan lagi di pondok Pakuncen Patianrowo untuk menengok kedua adikku yang tengah belajar di sana. Dengan mengendarai mbahnya F1ZR motor bututku yang penuh kenangan. Motor ini kubeli setahun sebelum aku berangkat ke Saudi mengembara menimba ilmu. Di tangki bensinnya memang kutuliskan kalimat mbahnya F1ZR. Banyak teman-teman yang bertanya kenapa kok namanya mbahnya F1ZR?. Motor yamaha bebek V75 memang layak disebut sebagai mbahnya F1ZR. Jauh sebelum yamaha mengeluarkan varian baru dengan nama F1ZR tahun 94an motor kebanggaan anak muda di waktu itu lebih dahulu bebek V75 ini diproduksi di tahun 70an, jadi tidak salah jika kunamai bebek V75 ini dengan mbahnya F1ZR. Begitu pula saat aku beli Honda 70 juga kunamai dengan mbahnya Supra. Biarpun sudah udzur usianya akan tetapi masih sehat jalannya dan tak pernah rewel. Adapun si mbahnya supra kujual karena sering mogok dijalan gara-gara sering kubuat kebut-kebutan bersama teman-teman. Si mbahnya supra ini memang tua tampangnya namun mesinnya kujejali dengan milik supra cucunya.

Satu jam perjalanan sampailah aku di pondok Pakuncen di mana dua orang adikku kutitipkan disini saat aku berangkat ke Saudi. Semua biaya kukirim dari sana. Sebagian mukafa’ah yang kuterima kubuat membiayai sekolah dan pondok adik-adikku. Aku tidak ingin menambah beban orang tua. Sebagai anak tertua aku merasa tanggung jawab atas pendidikan adik-adikku. Kulihat Abah kyai Komari duduk di ruang tamu sendirian. Kebetulan hari ini tidak banyak tamu-tamu beliau. Biasanya tamu datang silih berganti sehingga kadang untuk sowan harus antri. Aku langsung sowan menghadap beliau. Abah Kyai sangat mengenaliku dan tidak pangling walaupun sudah lima tahun tidak bertemu.

“ Assalamu aalaikum? “,
” Wa alikumsalam, lho, mas Hamdan to. Kapan pulang dari Saudi? ”,
“ Seminggu yang lalu Bah ”,
“ Bagaimana kuliahnya di sana? ”,
“ Alhamdulillah sudah tamat Bah ”,
“ Apa tidak melanjutkan S2 sekalian di sana? ”,
“ Sebenarnya ingin Bah, tapi bapak ibu menyuruh saya untuk pulang dan kalau ingin melanjutkan S2 di Indonesia saja ”,
” Jadi mas Hamdan sekarang sudah memperoleh gelar Lc ya? ”,
“ Begitulah Bah ”,
” Kalau begitu kebetulan sekali tahun ajaran baru ini Abah akan mendirikan sekolah SMP IslamTerpadu, saya harap nanti mas Hamdan bisa membantu di sekolah ”,
“ Insya Alloh Bah, saya siap ”.

Dalam hatiku sangat bersyukur saat dimana banyak tamatan sarjana pendidikan kesulitan untuk mencari tempat pengabdian aku malah dIminta untuk mengajar langsung dari ketua yayasan sekaligus pendiri dan pemilik sekolah. Aku lalu minta izin untuk bertemu adik-adikku. Kuduanya kaget melihatku seakan tidak percaya kalau yang ada di depannya itu kakak yang selama ini pergi jauh mencari ilmu. Aku memang tidak memberi tahu mereka kalau aku pulang. Selesai melepas rindu dengan adik-adikku aku pamit pulang.

Mungkin Anda juga menyukai

Anda punya pendapat untuk artikel ini ? Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: