Tanda-Tanda Cinta Oleh : El Man Bagian 4

+ posts

Bertemu orang tua

Tanda-tanda cinta - El ManFajar mulai menyingsing di ufuk timur pertanda waktu solat subuh sudah menjelang. Hembusan udara pagi yang sejuk dingin menerpa tubuhku. Dalam hati kupanjatkan syukur Alhamdulilah, aku akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiran yang sudah lama kutinggalkan guna merantau mencari ilmu. Lima tahun yang lalu aku berangkat ke Saudi untuk belajar. Aku sangat rindu pada kampung halamanku. Aku istirahat sejenak. Kuambil tempat duduk di tengah ruang tunggu. Kurebahkan tubuhku sejenak melepas lelah. Berapa saat kemudian terdengar suara adzan subuh mengalun dari menara masjid jami’ Baitus Salam, masjid kabupaten Nganjuk. Aku bergegas pergi ke masjid untuk solat shubuh. Jarak masjid ke stasiun hanya dua ratus meter. Cukup dengan jalan kaki sambil olah raga pagi. Segar……. Itulah yang terasa saat kran air wudlu kubuka. Imam subuh saat itu KH Jalaludin imam sepuh masjid jami’ Baitus Salam. Walaupun sudah sepuh suaranya masih merdu didengar sehingga bisa menambah kekhusyu’an para jama’ah.

Usai sholat aku istirahat di depan masjid menunggu pagi tiba. Jalanan sekitar alun-alun masih sepi hanya satu dua kendaraan yang melintas. Banyak orang jalan-jalan pagi di seputar alun-alun. Pagi mulai merangkak. Sinar mentari mulai kelihatan merah di ufuk timur.

Pagi ini aku kepingin menikmati perjalanan ke rumahku dengan santai dengan naik becak. Kendaraan alami yang non polusi. Aku bisa menghirup udara pagi yang segar di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Ingin rasanya aku bisa memperlambat waktu perjalanan untuk sampai ke rumah. Saat-saat paling bahagia bercampur haru dan kangen yang kurasakan adalah ketika pergi jauh dalam waktu yang agak lama kemudian pulang. Begitu akan memasuki kampung halaman itulah suasana perasaan itu yang kurasakan. Karena pada saat itu rasa rindu pada keluarga di rumah semakin memuncak. Sama seperti rasa rindu pada sang pujaan hati yang telah lama tidak bertemu. Perasaan kangen dan penasaran menjadi satu. Akan tetapi manakala sudah bertemu maka semua rasa itu akan hilang. Begitulah yang kurasakan. Semakin mendekati kampungku semakin memuncak pula rasa rindu dan penasaranku pada kampung dan seluruh keluarga juga teman-teman lamaku. Kuingin menikmati suasana hati seperti itu lebih lama lagi.

Abang becak terus mengayuh pedal becaknya. Sesekali komunikasi dan bertanya kepadaku tentang perjalananku kuliah mulai berangkat dulu hingga pulang sekarang. Sayup-sayup juga terdengar suara desahan ia menghela nafas karena perjalanan yang lumayan agak jauh. Jarak stasiun ke rumahku ada sekitar 10 km.

Aku terus menikmati perjalanan dengan becak ini. Dalam lamunanku terbayang dulu waktu bermain layang-layang dan mencari ikan bersama teman-teman di kedokan sawah pak dhe Sukadi. Kami dikejar oleh pak dhe dengan dibawakan gepuk karena padi yang baru saja ditanam menjadi rusak. Aku, Marji, Jari dan Kamid lari tunggang langgang. Marji kaosnya tertinggal di kedokan, Jari lari sambil memegang celana kolornya yang melorot, Kamid kesandung akar pohon dan jatuh kecebur parit. Sementara aku lari terus sekencangnya supaya lolos dari kejaran pak dhe Sukadi. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada teman-temanku. Mereka pasti tertangkap oleh pak dhe Sukadi yang terkenal kejam itu. Entah diapakan mereka oleh pak Dhe.

Rasa rindu menggebu makin terasa waktu memasuki jalan menuju kampungku. Kulihat warganya mulai pergi ke sawah. Semua warga kampung mengenaliku. Mereka tidak pangling. Setiap warga yang ketemu melambaikan tangan menyapaku. Kubalas mereka dengan senyuman sapaan dan lambaian tangan juga. Terbayang peristiwa beberapa hari yang lalu di rumah mas Shadiq saat aku hampir saja jadi seorang artis. Mungkin beginilah para penggemarku menyambut kedatanganku. Abang becak terus mengayuh pedalnya. Akhirnya sampailah di depan rumahku.

Kuperhatikan sejenak, masih sama seperti lima tahun yang lalu, pohon sono dan mangga masih tampak rindang. Bapak dan ibuku tidak kuberitahu kalau aku pulang hari ini. Sengaja kubuat kejutan. Aku juga tidak ingin merepotkan mereka. Orang desa biasanya akan beramai-ramai menyambut keluarganya yang pulang dari luar negeri dengan menyewa mobil ke bandara atau stasiun sebagai ungkapan kebangaan juga kebahagiaan mereka. Bapak dan ibu ternyata belum berangkat ke sawah. Ibu baru saja selesai menyapu halaman sementara bapak masih membersihkan kandang kambing di sebelah rumah. Alhamdulillah kambing-kambingku masih ada. Melihat aku turun dari becak spontan ibu membuang sapunya dan lari menghampiriku seolah tidak percaya kalau aku anaknya yang ada di hadapannya.

Ia spontan berterikan.
“ Hamdan….”, teriaknya sambil menyebut namaku
” Ini benar-benar kamu Hamdan? Ibu tidak mimpi kan? ”, ia masih belum percaya dengan apa yeng terjadi.
“ Tidak Bu, ibu tidak sedang mimpi, ini benar aku Bu, Hamdan anak ibu ”, jawabku.
Ibu merangkulku erat-erat air matanya langsung mengalir membasahi pundakku. Rasa haru biru yang sangat mendalam kurasakan saat itu. Ibu lalu memanggil bapak,
“ Pak….Pak… anak kita Hamdan pulang Pak……..”.

Bapak langsung bergegas menuju arahku. Bapak menatapku dengan mata berkaca-kaca seolah hendak menumpahkan semua air mata tapi masih bisa menahannya. Pertemuan antara anak dan orang tua yang sudah lama berpisah. Kusalami tangan bapak dengan penuh rasa hormat. Punggungku dielus bapak sambil berkata,
” Kenapa Kamu tidak memberi kabar Bapak kalau kamu pulang hari ini Nak, Bapak bisa mencarter mobil pamanmu menjemput di Juanda ”,
“ Mboten Pak, saya tidak ingin merepotkan keluarga, lagi pula saya juga tidak turun bandara Juanda Surabaya, tapi saya turun di bandara Jakarta. Terus saya naik kereta. Sengaja dari stasiun saya kepingin naik becak pak ”,

Agak lama suasana haru dan hening itu berlangsung aku hampir lupa belum membayar ongkos becak. Kulihat abang becak itu juga terbawa suasana haru. Kedua matanya berkaca-kaca. Kutanya ongkosnya berapa ? Dijawab, “ Dua puluh ribu Dik ”. Kuulurkan uang lima puluh ribuan kupinta ia agar tidak mengembalikan kembaliannya. Ia malah menangis. Aku jelaskan bukannya aku berniat menghinanya dengan tidak mau menerima uang kembalian namun aku ingin memberinya sedikit kelebihan rizki yang kupunya. Ia masih terisak. Aku jadi bingung. Ia lalu menatapku dan berkata,
“ Matur suwun Dik, atas kemurahanmu, semoga kelak hidupmu barokah rejekimu lancar, jangan sampai kamu nanti menarik becak seperti aku Dik ”.
Ia berulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya kepadaku. Aku coba bertanya apa yang terjadi, ia lalu bercerita.
” Dik, sudah dua hari ini aku narik becak, tapi belum dapat uang sepeserpun, padahal hari ini adalah hari terakhir anakku yang di SMP harus membayar kekurangan buku sejumlah lima puluh ribu rupiah, uang darimu ini nanti akan langsung saya bayarkan buku anakku Dik ”.

Ia kembali menyeka air mata yang meleleh dipipinya dengan handuk kecil. Mendengar kata abang becak itu air mataku tak tertahankan mengalir membasahi pipiku. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan bapak yang tengah berjuang demi anaknya ini. Terbayang dulu waktu aku masih duduk di bangku sekolah juga sering mengalami keterlambatan membayar sehingga kadang-kadang harus ikut ujian semester di luar kelas atau rapot ditahan tidak diberikan sampai tanggungan lunas dibayar semua.

Mungkin begini pula yang tengah dirasakan Fahri dalam cerita Ayat-Ayat Cinta yang ditulis oleh kang Abik waktu di metro. Ia ditawari seorang pedagang mainan anak-anak supaya mau membeli daganganya ia berkata kepada Fahri, ” Tolong belilah, mudah-mudahan bisa menjadi semangat hidupku. Kudo’akan semoga kehidupanmu berkah, diberi istri yang cantik dan sholehah, rejekimu lancar sehingga tidak perlu lagi berjualan seperti aku “.

Air mataku terus meleleh tak kuasa kubendung. Melihat air mataku meleleh abang becak itu kembali menangis haru. Aku tak tahu, entahlah kadang cerita yang ditulis orang lain itu bisa dialami dan dirasakan oleh yang lainnya, seperti cerita Fahri ini aku merasakannya.
Aku segera berusaha menguasai diri. Kuseka air mataku dengan sapu tangan. Ia juga bisa menghentikan tangis harunya, ia kemudian membawakan koperku ke rumah. Ibuku membuatkan sarapan dan kopi untuknya. Begitulah kebiasaan orang tuaku setiap kali ada orang yang datang dianggap sebagai tamu. Seperti adat orang jawa dalam menyambut tamu yaitu gupuh lungguh dan suguh. Selesai sarapan ia pamit mohon diri. Sekali lagi ia mengucapkan banyak terima kasih atas semuanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Anda punya pendapat untuk artikel ini ? Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: