Tanda-Tanda Cinta Oleh : El Man Bagian 3

+ posts

Kejadian di kereta
Tanda-tanda cinta - El ManDari arah utara kereta Bangun Karta mulai tampak terlihat. Perlahan-lahan jelannya mulai pelan hingga akhirnya berhenti tepat di tempat yang telah ditentukan. Aku Segera mencari gerbong kereta nomer empat. Aku salah duga. Kukira kereta dihitung urut dari depan. Ternyata kereta urut dari belakang. Akhirnya aku harus turun dan pindah ke gerbong kereta yang nomer empat dari belakang. Kulihat pintu masuk kereta empat penuh sesak. Aku naik lewat pintu kereta nomer tiga. Bersamaan dengan seorang lelaki gondrong naik di depanku. Dalam gerbong kereta penumpang berjalan berdesakan mencari tempat duduk sesuai dengan tiket masing-masing. Aku terus berjalan menuju gerbong depan nomer empat. Koper yang satu panggul di pundak. Lumayan berat karena isinya banyak buku. Sedangkan yang satunya lagi kujinjing dengan tangan kanan. Di tengah desakan penumpang ini kulihat lelaki gondrong di depanku mengulurkan tangannya ke arah saku penumpang di depannya. Aku langsung teriak, Copet…copeet….copeet……!,
Sepontan penumpang yang ada dalam gerbong itu kaget.

Mereka bartanya-tanya kepadaku mana copetnya. Aku tidak bisa menunjuk copet itu karena aku masih membawa beban koper yang berat. Lelaki gondrong itu langsung menengok ke belakang ke arahku dan langsung merah mukanya. Dia berusaha hendak memukulku. Belum sampai kepalannya mengarah ke wajahku dengan sigap koper yang di pundakku kuhantamkan ke dada lelaki gondrong itu. Dia jatuh terjerembab. Kemudian kujelaskan bahwa lelaki ini tadi hendak mengambil dompet penumpang kereta. Tanpa diperintahkan lagi penumpang dalam gerbong segera mengajarnya hingga babak belur. Lalu datang petugas polsuska mengamankannya dengan menggelendengnya ke pos keamanan. Lega rasa hatiku bisa menyelamatkan penumpang dari kecopetan.

Lalu aku segera menuju gerbong nomer empat. Kulihat kursi sebelahku sudah ada yang menempati. Seorang gadis berjilbab biru. Sejenak kulihat wajahnya. Cantik sekali gadis ini, gumamku dalam hati. Kuletakkan koperku di atas rak kereta. Dan yang besar kuletakkan di bawah. Akupun duduk di samping gadis itu. Hal ini hanyalah suatu kebetulan saja tempat duduknya berada disampingku. Sebagai tetangga duduk dalam perjalanan kereta kuperkenalkan diri.

“ Mau kemana mbak ? ”, tanyaku untuk memulai perbincangan .
“ Ke Nganjuk Mas ”, jawabnya.
“ Sama Mbak, aku juga mau ke Nganjuk ”,
” Mbak dari mana? ”,
“ Aku dari Salemba Mas ”,
“ Kerja apa kuliah? ”,
“ Aku masih kuliah Mas ”,
“ Di UI ya? ”,
“ Iya Mas ”,

Gadis ini tutur katanya lembut cocok seperti paras wajahnya yang cantik dan anggun. Dia ganti menanyakan tentang diriku.
” Kalau Mas ini dari mana ”,
“ Aku dari Saudi Mbak ”,
Dia agak kaget mendengar jawabanku.
“ Kenapa naik kereta Mas, nggak langsung turun bandara Surabaya saja ”,
“ Aku bersama teman Mbak, kami sengaja turun Jakarta karena naik Saudi Air Lines. Aku mampir di rumah saudara di Bekasi ”,
“ Mas di sana kerja? ”, tanyanya
“ Nggak Mbak, aku kuliah di Al Imam Muhammad Ibnu Saud Riyadh ”, jelasku.
Aku hampir lupa kenalan namanya.
“ Oh ya, aku Hamdan Mahmudi, Mbak namanya siapa? ”,
“ Amalia Nor Fadlila, Mas ”,
“ Nama yang indah sesuai dengan orangnya”, komentarku. Dia hanya tersenyum mendengarnya.
“ Oh ya Mbak Amalia tinggal di Nganjuk mana? ”
“ Di berbek Mas Hamdan, dekat masjid Agung Al Mubarok ”, jawabnya.
“ Aku juga kelahiran Berbek lho Mbak Amalia ”, sahutku.
“ O ya, Berbek mana Mas Hamdan? ”, tanyanya
“ Pelosok Berbek Mbak, tepatnya Gayu Mlilir ”,
“ Kebetulan kita tetangga desa Mas ”, imbuhnya.
“ Iya ya Mbak, kebetulan banget bisa bareng dengan tetangga satu kereta ”,
“ Oh ya Mas, aku juga punya paman di mlilir tapi sekarang orangnya tinggal di Bekasi ”, katanya.
“ Siapa namanya barangkali saja aku kenal dia Mbak ”, tanyaku.
“ Namanya pak Shadiq ”, jawabnya.
“ Pak Shadiq? ”, tanyaku ganti “ Dia kerja apa? ”.
“ Dia seorang jurnalis, Mas ”,
“ Isterinya dulu namanya Zainab? ”, tanyaku.
“ Iya Mas, tapi orangnya sudah meninggal, sekarang istrinya namanya Marlena ”,
“ Dia seorang wanita cina ? ”, tanyaku lagi.

Dia agak kaget aku tahu hal itu.
” Mas kok tahu ? ”,
“ Ya Alloh Ya robbi, pak Shadiq pamanmu itu adalah mas misanku Mbak, aku kemarin juga nginap di rumah mas Shadiq selama tiga hari, tadi waktu ke stasiun pasar senen juga diantar mas Shadiq ”, jelasku.

Tidak kukira ternyata gadis cantik ini adalah keponanakan mas Shadiq yang tak lain juga masih keluarga dekatku. Inilah akibat dari kurangnya silaturrahim sehingga antar saudara jadi tidak saling kenal. Bisa kubayangkan seandainya aku seorang remaja yang suka godain perempuan gadis, terus tidak tahunya yang digoda ternyata masih keluarga sendiri, kayak apa malunya.

Teringat dulu pernah diajak apel ke rumah seorang gadis oleh salah satu teman. Dia ngajak aku untuk meneman ngobrol dengan ayah si gadis nanti kalau sudah di rumahnya, biar dia nanti bisa enak ngobrol sama gadis pujaannya. Dengan demikian orang tua gadis juga bisa ngobrol sambil menemani anak gadisnya yang diapeli oleh temanku. Tak kusangka ternyata gadis itu adalah anak pamanku yang telah lama berpisah karena dia pindah rumah dan aku tak pernah silaturahim ke rumahnya. Akupun jadi cengar cengir dibuatnya. Temanku juga sama.

Sore berlalu dan malam pun datang menjelang. Kereta terus melaju dan melewati persawahan, kadang juga memasuki hutan yang gelap. Aku bersiap untuk solat magrib kujamak qosor dengan isya’ dalam kereta. Setelah ambil air wudlu di kran kamar kecil aku segera mengambil posisi solat. Selesai solat aku bermaksud istirahat karena capek.

Amalia juga mulai istirahat. Dia tidur bersandar dinding kereta. Karena merasa kurang nyaman dia lalu bersandar di sandaran kursi kereta. Kereta terus melaju kadang bergoyang saat kecepatan ditambah atau waktu direm kepala dan tubuh amalia kadang jatuh di pundakku. Dia lalu terkejut lalu bangun dan minta maaf. Aku memakluminya. Bukan tipeku untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku tidak jadi tidur karenanya. Malam semakin larut. Hampir mendekati stasiun Solo Jebres sekitar jam 10.30 terdengar keributan. Kereta diserang dari luar jendela kaca jendela kereta lempari batu hingga pecah. Semua penumpang panik. Bahkan gerbong depan dilempari molotov hingga banyak yang terluka. Kereta berhenti di stasiun. Penumpang yang terluka dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan. Aku segera mencari tahu akan peristiwa yang terjadi. Dari hasil investigasiku ternyata baru saja terjadi penyerangan dari warga sekitar jalur kereta. Siang kemarin telah terjadi penjarahan di toko-toko sekitar stasiun dan jalur kereta oleh para supporter bonek yang tengah melakukan perjalanan ke Jakarta untuk mendukung tim kesayangan mereka yang bertanding di stadion Lebak Bulus Jakarta selatan.

Para bonek mengambil segala apa yang mereka temui di sejumlah pertokoan untuk bekal perjalanan dan mereka tidak mau membayar jadi persis seperti perampokan oleh gengster di film Jacky Chan. Warga marah dan dendam kepada para bonek. Diperkirakan para bonek kembali lagi dari Jakarta naik kereta api hari ini atau malam ini. Jadi semua kereta yang lewat hari ini dan malam itu semua diserang warga. Karena kereta-kereta itu dicurigai ada penumpang bonek di dalamnya.

Kereta pun bergerak melanjutkan perjalanan. Malam semakin larut kulihat arlojiku menunjukkan pukul 01.00. mataku sudah tak tertahan lagi. Kucoba untuk tidur sebisanya. Amalia sudah lelap tertidur bersandar di dinding kereta. Baru kira-kira lima belas menit aku pejamkan mata tiba-tiba aku dikegetkan suara jeritan Amalia yang berada di sampingku. Aku terbangun. Begitu juga penumpang yang ada di gerbong itu. Amalia menjerit minta tolong. Ada tangan seseorang dari luar yang menjulur ke dalam gerbong lewat jendela kereta dan menarik tas amalia dan Amalia berusaha mempertahankan tasnya. Sepontan aku bangun dan menangkap tangan orang tersebut. Kupegang erat-erat tangan tersebut. Kulihat samar-samar dari dalam kereta tubuh orang itu bergelayutan menggantung di samping gerbong sambil mengerang kesakitan dengan pisuhan ndrendel .

Kereta berjalan melambat saat hendak memasuki stasiun Madiun. Kuminta penumpang lelaki yang duduk di depanku untuk menahan tangan orang tadi. Aku bersiap turun dari gerbong. Kereta berhenti. Gerbong yang ku naiki berhenti di tempat agak gelap jauh dari mulut stasiun. Aku bergegas turun menuju tempat gelayutan orang yang mencoba mengambil tas Amalia. Buk …buk….. bogem mentah kulayangkan ke tubuh penjahat itu. Lumayan, dulu pernah ikut latihan pencak silat waktu masih di Madrasah Aliyah sehingga sedikit-sedkit punya ilmu bela diri. Penumpang di dalam masih menahan tangan penjahat itu. Lima jotosan kukirimkan ke muka penjahat. Dia mengerang sakit sambil misuh-misuh. Aku jadi tidak enak bertarung dengan lawan yang tangannya tertahan, kusuruh penumpang di dalam untuk melepaskan tangan penjahat itu. Ia mencoba menyerangku dengan tendangan kaki. Namun belum sampai kakinya mengenaiku kusambut dengan pukulan ke arah dadanya.

Para penumpang turun menuju ke tempat pertarungan. Penjahat itu jatuh terjerembab. Segera kuminta seorang penumpang lain untuk melapor pada petugas stasiun Madiun. Penjahat itu diringkus. Petugas stasiun berterima kasih padaku karena penjahat itu sudah sering beraksi di sekitar stasiun Madiun dan selalu lolos saat hendak ditangkap.

Waktu menjelang pagi. Aku jadi tidak tidur semalaman. Rasa kantuk seakan hilang karena peristiwa yang terjadi di perjalanan. Tiga jam kemudian kereta memasuki wilayah Nganjuk. Masinis mulai memperlambat laju kereta. Cericit suara roda besi kereta api yang direm terdengar ketika menjelang masuk kawasan stasiun Nganjuk. Kereta berhenti. Aku bersiap-siap turun. Koper di rak atas kuturunkan. Amalia juga bersiap turun. Dia hanya membawa bungkusan kardus kecil kelihatannya juga ringan dibawanya. Aku pun melangkah turun. Amalia sudah dijemput bapaknya di ruang tunggu. Aku diperkenalkan Amalia kepada bapaknya. Dia menceritakan siapa diriku juga kejahatan yang akan menimpanya dan kuselamtkan. Bapaknya tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih padaku. Ia memintaku untuk silaturahim ke rumahnya. Akupun berjanji besuk-besuk akan datang silaturrahim ke rumahnya supaya persaudaraan bisa tetap tersambung.

Mungkin Anda juga menyukai

Anda punya pendapat untuk artikel ini ? Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: