Tanda-Tanda Cinta Oleh : El Man Bagian 2

+ posts

Tawaran artis

Tanda-tanda cinta - El ManHari ini aku bisa istirahat di rumah saudara misanku sendiri. Puas rasanya. Rasa kangen yang sejak lama terpisah oleh ruang dan waktu terobati sudah. Kabar keluarganya yang tidak kuketahui selama ini menjadi jelas sekarang. Ia juga berhasil menunjukkan jalan hidayah bagi seorang nasrani menjadi muslimah yang solehah. Sebuah amal perjuangan islam yang sangat besar pahalanya. Aku jadi ingat pelajaran yang menyatakan bahwa siapa yang bisa menunjukkan jalan hidayah islam kepada orang kafir maka ia akan mendapat balasan surga. “Semoga saja amal mas Shadiq yang satu ini benar-benar bisa membawanya ke surga kelak”, kataku dalam hati.

Rumah di komplek perumahan tidak sama dengan di perkampungan. Pintu senantiasa tertutup dan hanya di buka untuk keperluan keluar masuk anggota keluarga saja sehingga ada atau tidak adanya penghuni rumah tidak ada bedanya. Kalau ingin bertemu atau sekedar tahu keberadaan orang yang hendak ditemui ya harus mengetuk pintu dan bertamu. Beda dengan di kampung. Kalau penghuni rumah ada di dalam maka pintu rumah dibiarkan terbuka sehingga para tetangga yang hendak bertemu tinggal menengok dari luar lalu ucap salam atau permisi atau cukup memanggil dari luar sudah bisa.

Jam 15.00 sore pintu rumah mas Shadiq diketuk tamu, ” Assalamu’alaikum ”. Aku bergegas membuka pintu. “ Wa alaikum salam ”. Seorang lelaki berbaju kotak –kotak celana biru gelap memakai topi ala Ari wibowo si pelantun tembang madu dan racun bersama seorang wanita berbaju hijau muda dengan sepatu high hill , dan seorang gadis cantik tinggi semampai kira-kira 168 cm setinggi aku kulitnya putih bersih wajahnya indo blesteran Jawa Jerman. Kupersilahkan mereka masuk. Mbak marlena dan lidya pergi belanja. Aku sendirian dirumah. “ Monggo silahkan duduk dulu Pak, Bu ”, pintaku pada mereka. “ Terima kasih Mas ”, kata lelaki berbaju kotak-kotak. Aku lalu pergi ke dapur membuat minuman lalu kusuguhkan pada mereka, “ Silahkan diminum, maaf ini teh cina saya belum tahu bagaimana cara membuatnya, kalau kurang berkenan mohon dimaklumkan ”, kataku sambil menyuguhkan minuman.
“ Terima kasih Mas. O ya gomong-ngomong pak Shadiq dan bu Marlena di mana Mas, kok pada sepi? ”, tanya lelaki itu. “ Pak Shadiq masih di kantor dan bu Marlena masih belanja ”,

Mereka mulai menyeruput minuman teh buatanku. Kuperhatikan raut muka meraka satu persatu. Dalam hati ada rasa cemas kalau-kalau teh seduhanku tidak nyaman di lidah mereka. Setelah mencicipi teh buatanku gadis itu berkata, ” Rasanya mantap… pas…., seperti teh cina di kafe ”. kata gadis itu sambil melempar senyumannya yang manis ke arahku. Plong rasanya dalam hatiku mendengar komentar gadis itu berarti seduhanku takarannya pas tadi.

Wanita itu ganti bertanya,
” Mas ini siapa ya, kok baru kali ini saya lihat Mas ? ”,
“ Saya Hamdan Bu, saudara mas Shadiq dari kampung ”, jawabku
“ Oo.. jadi Mas Hamdan ini saudara pak Shadiq yang dari Nganjuk Jawa Timur sana ya ”, kata wanita itu.
“ Iya Bu”, jawabku singkat sambil berusaha senyum.
Lelaki berbaju kotak-kotak itu memandangku dengan seksama. Aku jadi kikuk dan salah tingkah dibuatya. Pandangannya seolah-olah penuh selidik.
“ Mas Hamdan masih sekolah atau sudah kuliah ? ”, tanya wanita itu.
“ Saya sudah tamat kuliah Bu ”, jawabku.
Wanita itu agak terkejut dan bertanya,
“ Sudah tamat kuliah? kuliah di mana ? ”
“ Saya baru saja tamat dari universitas Al Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Arab Saudi, dua hari yang lalu saya tiba dari Saudi ”, jawabku.
Lelaki itu mengangguk-angguk mendengar ucapanku. Wanita itu meneruskan pertanyaannya
“ Jadi Mas Hamdan ini sarjana Arab Saudi ya? ”,
“ Iya Bu “, jawabku singkat.
Lelaki itu ganti bertanya,
” Mas Hamdan rencananya mau ke mana? ”,
“ Kalau rencananya saya mau pulang kampung Om ”,
“ Mau kerja apa di kampung ? ”,
“ Wah kalau itu saya kurang tahu Om, mungkin mengolah sawah atau beternak ”,
Lelaki itu memandangiku sekali lagi. Si gadis cantik itu juga ikut memandangku. Aku jadi semakin salah tingkah karenanya. Dalam hatiku berkata, baru kali ini aku dipandang wanita secara langsung dengan pandangan yang tajam seksama. Tubuhku memang agak kekar karena dulu selama di rumah sudah biasa kerja otot, seperti memikul air minum dari sumur di sawah, memikul rumput dan juga hasil sawah untuk dibawa pulang. Tinggiku juga lumayan 170 cm. Aku tak berani bicara. Aku hanya diam menunduk sambil mempermainkan jemariku auntuk mengurangi rasa cemas dan tegang. Suasana jadi hening.

Sejenak kemudian gadis cantik itu angkat bicara,
” Om Sony, bagaimana kalau mas Hamdan ini saja yang jadi teman mainku dalam film kita nanti, sejak kemarin peran pemuda desa yang nantinya menjadi pendampingku juga belum ada yang pas ”,
Lelaki setengah baya yang ternyata bernama Sony itu menimpali,
” Ide bagus Citra, om perhatikan Hamdan ini cocok dan pas dengan peran itu, kalau kamu cocok main dengan dia om setuju saja ”.
Aku sedikit kaget dengan ucapan gadis cantik yang bernama Citra itu juga kata om Sony. Akan tetapi aku hanya bisa diam.

Angan-anganku mendadak melambung tinggi. Tak terbayang kalau aku nanti jadi artis yang sering nongol di TV kayak artis-artis ternama yang punya fans banyak. Kemana-mana selalu dikerumuni banyak orang. Aku teringat waktu dulu masih di Madrasah Aliyah dulu sering ikut bergabung dalam ekstra teater. Cerita yang kubuat dan kulakonkan selalu mendapat banyak pujian dan nilai bagus dari teman dan guru-guru. Setiap kali ada event perayaan di Madrasah Aliyah seperti milad madrasah, tasyakuran wisuda purna wiyata, PHBI dan PHBN grup teaterku selalu mengisi acara istirahat pada acara-acara tersebut. Aku berpikir tidak sia-sia ikut ekstra teater dulu. Kini bayangan artis sudah di depan mata.
“ Bagaimana Mas Hamdan, Kamu mau main film bersama kami? ”, mendadak pertanyaan om Sony membangunkan aku dari mimpi dalam terjaga .
Belum sempat aku menjawab tiba-tiba mas Shadiq datang, ” Assalamu alaikum ”. “ Wa alaikum salam”, serentak kami menjawabnya. “ E.. Om Sony dan bu Nadia, sudah lama Bu? ”, tanya mas Shadiq sambil duduk di sofa sebelah selatan menghadap utara berhadapan dengan om Sony. Bu Nadia dan Citra duduk di sofa barat menghadap ke timur. Mas Shadiq lalu memperkenalkan aku pada mereka,
” Om Sony, ini adik misanku anak paman dari Nganjuk. Ia baru saja tamat kuliah di Saudi. Sudah hampir tujuh belas tahun nggak ketemu sekarang ketemu sudah gede dan tamat sarjana ”, kata mas Shadiq sambil memegang bahuku.
“ Iya Pak Shadiq, tadi mas Hamdan ini juga cerita sedikit tentang hal itu ”, kata Om Sony.
“Oo.. sudah cerita, ya kebeneran kalau gitu ”, kata Mas Shadiq. “ Hamdan, ini om Sony dan bu Nadia teman-teman saya di sini. Mereka kerja di perfilman”, tambah mas Shadiq

Mereka kemudian mengadakan pembicaraan serius soal casting , setting dan syuting. Aku hendak mohon izin ke ruangan sebelah untuk nonton tivi, amun mas Shadiq tetap memintaku untuk tetap di ruangan itu. Dari sini aku bisa sedikit banyak bisa menangkap pembicaraan mereka. Rupanya si gadis cantik itu adalah pemeran utama dalam sebuah film “ Cinta Pertama ” film yang bercerita tentang kisah cinta gadis SMA anak konglomerat dari kota dengan seorang pemuda desa yang berbudi mulia. Gadis itu jatuh cinta pada pemuda desa tersebut karena kehalusan budinya. Namun orang tua si gadis menentang akan hubungan tersebut karena dianggap tidak setara status sosialnya. Akan tetapi hati si gadis sudah terlanjur jatuh pada pemuda tersebut dan tidak bisa hidup tanpa dia. Sungguh kasihan nasib si gadis itu. Kisah cintanya bagaikan kisah Qais dan Laila. Dalam kisah film tersebut bukan pemuda desa yang tergila-gila pada si gadis akan tetapi malah si gadislah yang tergila-gila pada pemuda desa itu. Kisah cinta Qais dan Laila lebih terkenal dengan nama Laila majnun, kalau di artikan secara harfiah artinya Laila yang gila. Sebenarnya bukanlah Laila yang gila akan tetapi Qaislah yang tergila-gila pada Laila.

Sesekali pandangan Citra menuju ke arahku. Akupun juga sesekali memandangnya. Hal ini bukan berarti pandanganku hanya tertuju pada Citra saja namun pada tamu mas Shadiq mereka bertiga. Hanya saja saat pandanganku mengarah ke Citra ia juga pas memandangku sehingga pandangan kami bertemu. Ia juga mengumbar senyuman manisnya saat melemparkan pandangannya ke arahku. Kadang saat di ajak bicara soal film yag tengah dibahas ia sering gagal fokus. Iapun jadi kelagapan menanggapi pertanyaan dari om Sony ataupun bu Nadia. Aku hanya tersenyum melihat salah tingkahnya.

Pembicaraanpun berlanjut. Aku pamit untuk naik ke kamar atas guna mandi dan solat ashar. Selesai solat tak lupa senantiasa kubaca wirid yang selalu kuamalkan sejak masih dibangku Madrasah Aliyah. Aku tidak tahu apa khasiyatnya karena oleh mbah yai tidak diperkenankan menanyakan hal itu. Pokok diamalkan saja toh nanti suatu saat akan tahu sendiri manfaatnya. Selesai baca wirid aku turun ke bawah. Kulihat om Sony bu Nadia juga Citra sudah tidak ada di tempat. Mungkin mereka sudah pulang saat aku solat ashar dan baca wiridan. Biasanya aku sholat Ashar dan baca wirid tersebut membutuhkan waktu dua puluh menit.

Mas Shadiq sedang solat di ruang musolla sebelah barat ruang tamu. Kulihat koleksi buku-buku mas Shadiq di rak bupet sebelah TV. Banyak buku-buku klasik kutemukan disitu. Juga majalah-majalah lama masih terawat dan tertata rapi. Di rak sebelah utara ada lima puluh lebih keping piringan hitam. Lagu-lagu lawas banyak tersimpan di dalamnya. Hal ini memang pembuatan piringan hitam ini sebelum usumnya pemakaian kaset pita ataupun CD / VCD. Jadi lagu-lagu yang terekam di dalamnya juga lagu-lagu yang tercipta di jamannya.

Selesai solat mas Shadiq menghampiriku. Aku minta diputarkan lagu dari piringan hitam. Begitu alunan lagu mulai terdengar sayup santai keluar dari gramaphone rasanya seperti berada di zaman mbah-mbah dulu. Sambil menikmati lagu klasik kusampaikan tawaran dari om Sony yang memintaku untuk ikut main dalam filmnya. Kupikir-pikir tawaran ini cukup langka bagiku. Tidak semua orang bisa mendapatkan tawaran artis semacam ini. Untuk bisa sekedar jadi pemeran pembantu saja harus melalui casting yang ribet dan melelahkan. Adapun aku langsung diminta oleh sang sutradara untuk ikut langsung main tanpa lewat casting bahkan lagsung jadi pendamping pemeran utama.

”Kamu nggak usah ikutan main film atau senetron Hamdan, dunia intertainment itu tidak cocok buat Kamu. Godaan dan cobaannya sangat besar. Apalagi kamu lulusan kuliah dari Saudi yang nota benenya belajar pendidikan agama. Kamu kuliah di sana itu bukan untuk main film atau jadi artis. Kamu dikirim ke sana itu biar Kamu nantinya bisa menjadi pejuang agama penyebar ilmu amanat Alloh, bukannya untuk menjadi artis ”, terangnya.

Jawaban mas Shadiq sungguh di luar dugaanku. Aku berharap mendapat dukungan untuk main film sehingga aku nanti bisa menjadi terkenal di TV. Seluruh keluargaku di kampung bisa ikut bangga karenanya. Tapi aku berusaha untuk meyakinkan dan mendapatkan dukungan dari mas Shadiq.
“ Tapi mas ….”, sahutku untuk meyakinkan mas Shadiq namun langsung dipotong.
“ Sudahlah, Kamu nggak usah terjun di dunia yang begini ini Hamdan. Dunia ini tidak cocok dengan ilmumu. Nanti malah sia-sia ilmu yang sudah jauh-jauh kamu peroleh nggak bisa tersalurkan. Coba Kamu bayangkan seandainya kamu bener-benar main dalam peran itu, terus kamu ada adegan harus berpeluk cium dengan wanita lawan mainmu dan disaksikan oleh seluruh orang se-Indonesia termasuk juga gurumu dan kyaimu yang kebetulan nyetel TV. beliau nonton Kamu, apa kata mereka? Terus mau kamu kemanakan ilmu agamamu yang selama ini Kamu pelajari jauh-jauh sampai ke Saudi? ”. sanggahnya.

Aku hanya diam mendengar semua apa yang dikatakan oleh mas Shadiq. Rasa dalam hatiku bercampur dan berkecamuk tak menentu. Antara harapan jadi artis dan komitmen untuk berjuang demi islam yang pernah kuikrarkan bersama teman-teman saat masih di Saudi. Aku termangu tak bisa berkata apa-apa. Mas Shadiq juga terus memberiku nasihat akan ilmuku yang harus dimanfaatkan biar bisa menjadi ilmu yang bermanfaat dunia sampai akherat. Dia juga mengatakan seandainya peran ustadz atau guru dalam film masih bisa diterima karena masih bisa dakwah dengan peran itu. Akan tetapi peran ini adalah peran yang bertentangan dengan komitmenku untuk berdakwah berjuang demi islam.

Dalam diam kubayangkan semua apa yang dikatakan Mas Shadiq. Bagaimana seandainya aku harus berpelukan dan berciuman dengan wanita yang bukan mahramku di depan kamera dan di saksikan jutaan pasang mata. Bukankah ini suatu dosa yang tak terkirakan besarnya. Karena ulahku mereka jadi berbuat dosa dengan melihat hal yang diharamkan agama. Dan bukankah aku juga turut andil dalam perbuatan dosa tersebut. Bahkan seluruh orang yang bermaksiat dengan menyaksikan aktingku berpeluk cium di depan kamera, bukankah aku juga yang turut menanggung dosa mereka. Sebagaimana sabda Nabi “ Barang siapa yang membuat satu perbuatan yang buruk maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang-orang yang ikut di dalamnya ”. Apa lagi yang turut menyaksikan itu orang-orang yang selama ini telah berjasa besar dalam belajarku seperti mbah yai atau guru-guru ngaji dikampung. Mbah yai mungkin bukan menonton akting untuk menikmati akan tetapi lebih pada memperhatikan sejauh mana perbuatan maksiat yang kuperbuat selama main dalam film tersebut. Bukankah aku sudah durhaka pada mereka semuanya. Harapan aku untuk menjadi penerus perjuangan mereka harus hilang bahkan diganti dengan ulahku yang semakin masuk ke jurang haram. Biar bagaimanapun aku adalah jebolan pesantren Mojosari Nganjuk yang sangat legendaris dalam dunia pesantren. Banyak para kyai besar lahir dari pesantern ini. Dalam angan-anganku seakan muncul bayangan Romo Kyai Manshur. Beliau menatapku dengan tatapan yang sangat tajam seakan tidak ridlo aku main film. Aku masih ingat dawuh-dawuh yang beliau sampaikan saat aku minta do’a restu untuk meneruskan kuliah di Saudi.
“ Sinau kui neng endi-endi podho, kabeh sing disinau ilmune gusti Alloh. Awakmu neng kono kene ya tetep santriku neng ngendi wae kudu iso jogo tumindake santri ” .
Kata-kata itu masing terngiang di telingaku. Aku juga teringat akan sebait nadzam dalam kitab alala dalam bahasa jawa: “ Disikne ingsun ing guru ngarekne ing bopo, senajan oleh ingsun kamulyan soko bopo. “ .

Aku hanya termenung dan merenung. Dalam renungan aku berpikir, mungkin seandainya saja aku boleh main film oleh orang tua, akan tetapi aku yakin semua guruku tidak akan meridloinya. Dalam menghadapi kehidupan ini haruslah menegepankan nasehat-nasehat guru agama. Walaupun terkadang nasehat mereka bertentangan dengan kehendak orang tua. Karena nasehat dan petunjuk guru itu untuk kebaikan dunia sampai akherat. Seperti dawuh romo kyai Manshur, aku harus bisa menjaga perilaku santri. Walaupun sekarang sudah tidak lagi tinggal di kamar pondok namun sebutan santri tidaklah hilang sampai kapanpun. Teman-teman kang santri mereka serng bilang bahwa mereka tidaklah pulang kampung namun hanyalah pindah kamar tidurnya saja. Yang semula tidur di kamar pondok bersama teman-teman kang santri lainnya maka kalau sudah lulus ganti tidur di kamar rumahnya sendiri. Dengan demikian status kesantrian tetap melekat pada mereka. Dan oleh karenanya perilaku seorang santri harus benar-benar di jaga di manapun dn kapanpun. Begitu sangat kuat dan jauhnya pengaruh dari dawuh beliau romo kyai Manshur itu. Sederhana namun sangat kuat mengikat jiwa masing-masing santri.

Perhatian orang tua biasanya hanya terbatas pada soal hidup keseharian saja yang menyangkut sandang pangan dan papan, lebih pada soal kehidupan di dunia ini. Banyak orang tua yang memandang keberhasilan anaknya itu ketika anaknya menjadi orang kaya raya atau tinggi pangkatnya serta harta berlimpah dan kecukupan segala-galanya. Akan tetapi mereka kurang atau tidak memperhatikan perilaku dan ibadah anaknya. Anak mau solat atau tidak, puasa atau tidak bahkan harta yang didapatkan itu halal atau haram, orang tua kurang memperhatian. Kalau ada anaknya pulang larut malam karena kerja orang tua bangga. Akan tetapi waktu solat subuh anak tidak bangun solat orang tua tidak membangunkannya. Entah karena orang tua enggan memperhatikan atau alasan lain. Asal anak hidup berkecukupan atau memiliki pangkat derajat yang tinggi di masyarakat maka orang tua sudah beranggapan bahwa anaknya sudah berhasil.

Lain halnya dengan pandangan sang guru yang lebih dari pada semua itu. Di samping dalam urusan kehidupan dunia, guru juga memperhatikan santrinya dalam urusan ibadah dan akheratnya. Guru tidak hanya memperhatikan hasanah atau kebahagiaan di dunia namun juga hasanah di akherat kelak sebagaimana termaktub dalam do’a sapu jagat yang senantiasa dipanjatkan setiap muslim. Robbana atina fiddunia hasanah wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar.

Dalam urusan akherat nanti, di mana setiap orang akan mempertanggungjawabkan urusan dan amalnya masing-masing di hadapan Qodli Robbul Jalil, Alloh yang maha adil dan bijaksana di hari penghisaban nanti. Apabila seseorang diberi karunia umur panjang akan dipertanyakan digunakan untuk apa umur itu dihabiskan. Apabila diberi kesempatan melewati masa muda, kemana masa muda itu digunakan. Apabila diberi anugerah ilmu pengetahuan ke mana dan untuk apa ilmu itu dipergunakan. Dan apabila diberi anugerah harta benda maka pertanyaannya adalah dari mana harta benda itu diperoleh dan ke mana harta itu dibelanjakan.

Banyak orang yang mendapatkan harta dari cara yang halal namun dibelanjakan ke jalan yang haram. Atau harta itu didapat dari cara yang haram lalu dibelanjakan ke jalan yang halal, untuk berinfaq dan beramal jariyah. Hal ini tentunya tidak akan diterima amal tersebut kerana Alloh hanya akan menerima amal infaq sodaqoh dan jariyah hanya dari harta yang didapatkan dari cara yang halal. Dalam urusan harta juga sering dinyatakan bahwa, halalnya ada penghisaban dan haramnya ada siksaan. Ajaran seorang guru tentunya untuk kebahagiaan dan keselamatan muridnya baik dunia juga akherat. Termasuk juga arahan supaya mendapatkan harta dengan cara halal dan membelanjakannya pada jalan yang halal pula sehingga harta yang dimilikinya kelak tidak memuatnya terjerumus dalam lembah neraka.

Suatu saat aku pernah sowan pada romo kyai. Dalam waktu yang bersamaan ada alumni santri yang sukses dalam urusan dunia. Hartanya melimpah mobilnya banyak akan tetapi kehidupanya jauh dari nilai-nilai kesantriannya. Romo kyai dawuh,
” Nyambut gawe yo nyambut gawe Co, tapi Nek ngibadah yo ojo dilerwakne, solate diopeni, dzkire diamalne ojo nganti awakmu ciloko akhere Co .” .

Romo Kyai Manshur memanggil para santri itu dengan panggilan “ Co “ singkatan dari konco artinya sahabat. Sungguh suatu sikap andap asor yang patut diteladani oleh para guru di zaman sekarang.
Kebanyakan guru di zaman sekarang ini menganggap muridnya itu memiliki derajat satu atau dua tingkat di bawahnya, sehingga hubungan antara guru dan murid dibatasi dinding gengsi yang tebal. Sikap romo kyai Manshur terhadap para santrinya di pondok pesantren Mojosari persis seperti sikap yang dicontohkan nabi Muhammad terhadap para sahabat Beliau. Semua orang yang kenal dekat Nabi di sebut dengan sahabat. Walaupun ada juga yang nota benenya merupakan paman Nabi sendiri seperti Hamzah bin Abdul Muttolib, atau mertua Nabi seperti Abu Bakar AsShiddiq dan Umar bin Khotob, atau menantu nabi seperti Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tolib. Semuanya diperlakukan sama dengan sebutan yang sama pula yaitu mereka sebagai sahabat Nabi. Hubunganpun juga semakin dekat tidak adanya celah gengsi yang memisahkan antara mereka.

Setelah merenungkan semuanya, aku akhirnya bisa menerima nasehat mas Shadiq yang melarangku terjun di dunia artis. Kuputuskan pulang kampung untuk membangun dakwah menyebarkan ilmu seperti tekat awalku. Aku ingin menjadi putra daerah yang baik dan bisa membawa perubahan ke arah kebaikan bagi kampung halamanku. Aku juga semakin yakin bahwa dunia artis bukanlah dunia yang tepat bagiku. Aku berniat untuk kembali ke kampung halamanku di pelosok Nganjuk Jawa Timur esok hari. Akan tetapi mas Shadiq memintaku untuk tinggal dirumahnya dua hari lagi. Rasa kangen berpisah tujuh belas tahun masih belum terobati. Selama dua hari itu aku minta mas Shadiq untuk mengantarku silaturahim pada para habaib yang sudah akrab dengannya.

Alhamdulillah akhirnya aku bisa sowan para habaib yang alim dan soleh yang selama ini hanya kudengar nama dan ceritanya saja. Kupuaskan untuk bisa memandang mereka. Menurut para ulama’ memandang wajah orang-orang yang soleh itu akan bisa mendapatkan berkah atau ketularan kesolehannya. Aku juga berkesempatan bisa makan bersama para solihin tersebut. Kelak di akherat para ulama’ yang ma’rifat billah itu akan diberi izin untuk menyalurkan syafaat dari Alloh pada orang-orang yang mereka kenali waktu di dunia, termasuk orang yang pernah duduk satu majlis dengan mereka atau juga yang pernah makan bersama mereka. Begitulah keterangan yang dulu pernah aku dengar dari guru-guru dan kyai dalam pengajian kitab Al-Hikam. Aku memang awam soal itu akan tetapi aku khusnudzon akan kebenarannya.

Hari selasa pagi aku diajak mas Shadiq jalan-jalan di Pasar Senen sekalian pesan tiket kereta api. Ia memesankan tiket kereta kelas bisnis Bangun Karta jurusan Jakarta – Jombang. Kereta 4 tempat duduk no 5A. Berangkat dari stasiun Pasar Senen jam 13:00 dan akan tiba di stasiun Nganjuk jam 03:30 dini hari. Begitulah keterangan yang ada pada tiketku. Setelah mendapatkan tiket dan belanja seperlunya aku pulang kembali ke rumah mas Shadiq. Malam mas Shadiq mengajakku menghadiri acara pembacaan maulid Nabi di rumah habib Zainal. Sungguh suatu kesempatan baik yang tak boleh kusia-siakan. Jam 12 malam acara selesai kami pulang.

Dalam tidur malam itu aku bermimpi. Kulihat diriku ikut dalam rombongan kaum yang bajunya serba putih baunya wangi bagai minyak kasturi. Rombongan ini menuju suatu tempat yang agak tinggi semacam bukit dengan tanah yang datar. Di sana semua rombongan tersebut mengadakan solat jama’ah di imami oleh seseorang dengan jubah hijau baunya harum semerbak. Aku tepat berada di belakangnya. Selesai solat dia naik di tanah yang agak tinggi dan berkhotbah. Aku tidak tahu apakah ini solat jum’at atau apa. Dalam khotbahnya ia mengatakan,

“ Beruntunglah orang yang ikut rombongan ini. Tahukah kalian bahwa rombongan ini adalah kaum pilihan dari umat islam. Di tangan kalian islam tersebar dan atas perjuangan kalian ilmu Alloh tersiar ke penjuru dunia. Dan bergembiralah bahwasanya Alloh telah meridloi kita semua ”.
Selesai mendengarkan khotbah aku terbangun. Kulihat jam menunjukkan pukul 03:15 dini hari. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu kemudian sholat tahajud. Dalam munajat kuhaturkan segala apa yang terbaik bagiku dan semuanya kuserahkan kepada Alloh SWT. Dialah yang maha segala-galanya. Termasuk urusan pekerjaan yang nantinya akan kulakukan. Aku hanya mohon yang terbaik di sisi Alloh bagiku. Aku semakin mantap dengan niatku untuk berjuang dengan ilmuku.

Pagi ini aku sholat shubuh di masjid komplek Persada Kemala sekalian jalan-jalan menghirup udara pagi yang segar. Selesai sarapan pagi kukemas semua barang-barang dalam koper. Jam 11 siang aku berangkat diantar mas Shadiq ke stasiun Pasar Senen. Keretaku akan berangkat jam 13:00. Sengaja berangkat lebih awal takut terjebak kemacetan di jalan. Setelah perjalanan satu setengah jam sampailah di stasiun. Jam menunjukkan pukul 12.30 aku langsung mencari mushola untuk sholat dhuhur kujamak taqdim dengan ashar. Setelah selesai solat kubaca wirid sekedarnya. Mas Shadiq lalu pamit untuk kembali dan nitip salam buat keluarga di Nganjuk.

Mungkin Anda juga menyukai

Anda punya pendapat untuk artikel ini ? Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: