Tanda-Tanda Cinta Oleh: El man Bagian 1

Pulang ke tanah air

Tanda-tanda cinta - El ManPagi itu jam menunjukkkan pukul 06.00 pagi waktu Riyadl Arab Saudi. Aku bersiap-siap berangkat ke mathor King Abdul Aziz untuk pulang ke tanah air. Barang-barang telah kukemas dalam dua koper besar. Boarding pass, dokument-dokument penting serta ijazah sarjanaku juga sudah masuk semua dalam tas. Seminggu yang lalu surat-surat serta dokument akademik yang berhubungan dengan akademik kampus Al Imam Muhammad Ibnu Sa’ud sudah beres semua.
Hari ini adalah hari yang paling berat bagiku. Rasa senang, sedih, bangga dan haru menjadi satu. Sedih karena aku akan meninggalkan kampus universitas Al Imam Muhammad Ibnu Sa’ud tempat aku menimba ilmu di Arab Saudi. Rasa senang dan bangga karena aku telah berhasil menamatkan belajarku di universitas ternama di negara tempat islam lahir dan berkembang. Haru karena aku akan berpisah dengan semua teman-teman seperjuangan dari berbagai negara yang selama lima tahun ini telah menyatu menjadi saudara. Aku memang berniat pulang ke tanah air untuk mengabdikan diri serta menyebarkan ilmu agama di daerah asalku..
Semalam aku dan teman-teman sekamar, Rajab Syahrullah, Sofwan, Suhadi juga mahasiswa dari korea Farid Chang iI Hwan dan Hamid Mahmud dari sudan mengadakan pesta wada’ di sutuh . Kami makan sampai puas. Sengaja kami mahasiswa dari indonesia memesan makanan Indonesia sekaligus memperkenalkan cita rasa makanan nusantara pada teman-teman dari lain negara. Selesai makan aku dan Suhadi nyruput secangkir kopi, Rajab lebih suka tamar hindi, Sedang Farid dan Hamid masing-masing minum coca-cola dan fanta.
Sambil begadang masing-masing dari kami bercerita tentang budaya daerah asalnya, juga cita-cita dan harapan di masa depan masing-masing. Rajab ingin jadi da’i kondang di daerah asalnya Makassar. Sofwan ingin mendirikan pesantren modern di Nusa Tenggara Barat, Suhadi ingin menjadi kyai besar di Blora jawa tengah meneruskan perjuangan Abahnya pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren besar di Blora. Aku bertanya pada Farid akan cita-citanya kalau nanti dia sudah kembali ke tanah airnya. “ Aku ingin mengembangkan islam sekaligus nanti mendirikan islamic center di kota Seoul akh, di sana sangat membutuhkan da’i dan pejuang islam”, katanya dengan nada serius.
“ Alloh yubarik fiik ya akhy” , timpalku.
“ Ya akhi bagaimana kalau tidak keberatan nanti akh Hamdan ikut berjuang bersama saya di Seoul, di sana sangat membutuhkan da’i kayak akhi yang ulet dan telaten “,
“ Afwan ya Akh, bukannya saya tidak ingin berjuang di Seoul bersamamu, tapi daerahku sendiri nun jauh di pelosok indonesia sana juga membutuhkan da’i akh ”,
“ Tapi di Indonesia kan juga banyak pesantren yang banyak menghasilkan da’i akh, beda dengan di Seoul ”,
“ Memang di Indonesia banyak pesantren akh, akan tetapi di daerahku jauh dari pesantren, jadi masyarakat di sana juga sangat mengaharap aku untuk berjuang memajukan daerah. Begini saja akh, zaman sekarang kan sudah tidak ada lagi batas ruang dan waktu, kita tetap bisa sharing tentang hal-hal atau kendala yang nanti kita temui di tengah perjuangan ”,
“ Ahsanta ya akhi saya hampir lupa akan hal itu. Kita nanti tetap bisa hubungan secara online lewat media jejaring sosial internet ”,
Malam semakin larut jam menujukkan pukul 01:30 lewat tengah malam aku minta izin turun ke kamar dulu. Kamarku ada di lantai lima.
Hari ini yang akan pulang ke tanah air aku dan Rajab. Untuk perjalanan ke bandara aku naik taksi. Teman-teman mengantar kami sampai pintu gerbang sakan . Aku dan Rajab dirangkul bergantian oleh teman-teman sekamar, air mata tidak kuasa dibendung. Semuanya terisak melepas kepulangan kami. “ Akh Hamdan jangan lupa nanti setibanya di Indonesia sana segera kirim kabar pada kami di sini ya ”, pinta Hamid padaku. “ Iya akh insya Alloh aku tak akan lupa akan hal itu segera ku kirim kabar nanti begitu tiba di Indonesia ”, sahutku. “ Dan jangan lupa kirimlah email pada kita di sini agar persaudaraan kita tetap terjaga ”, pintanya. “ Iya akh, Alloh yubarik fina. ilalliqo’ ayuhal ikhwah” . Aku pamit pada mereka. “ Ma’assalamah wa fi amanillah ya Akhi Andonesy “ , jawab hamid seraya melambaikan tangan kanannya sementara tangan kirinya menyeka air matanya yang terus meleleh di pipi.
Aku dan Rajab bergegas menuju taksi.
Aku dan Rajab naik Saudi air lines langsung Jakarta. Selama dalam perjalanan pesawat aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur karena ngantuk semalaman begadang. Aku bukanlah tipe orang yang suka begadangan. Entah apa yang dilakukan Rajab aku tak tahu. Rajab orang yang suka begadang hingga pagi, jadi dia tetap bisa melek walaupun semalam sudah begadang. Sepuluh jam kemudian pesawat landing di bandara internasional Sukarno – Hatta Jakarta. Segera kami mengurus barang-barang kami dalam koper. Aku dan Rajab melewati pintu sinar X dan alhamdulillah semua lancar karena memang barang-barang yang ada dalam koper buku-buku dan pakaian seperlunya saja.
Keluar dari bandara Rajab mengajakku istirahat di rumah kakaknya, Said Mustofa di jalan Buncit Raya Jakarta selatan. Dia seorang dosen di salah satu universitas ternama di Jakarta. Dia juga lulus S1 di universitas Al Imam Muhammd Ibnu Saud lalu meneruskan S2 di Al Azhar Kairo. Kamipun naik taksi dari bandara menuju rumah Said di buncit raya. Perjalanan dari bandara sampai buncit raya memakan waktu tiga jam lamanya. Jalanan Jakarta macetnya minta ampun. Rupanya jalanan di Jakarta sudah overload tak mampu lagi menampung kendaraan yang semakin hari semakin tambah. Pukul 20:15 kami tiba di rumah Said Mustofa. “ Assalamu’alaikum ”, kata Rajab sambil mengetuk pintu. “ Waalaikum salam ”, jawab Said dari dalam. Pintupun lalu dibukakan, ” Ini akh Hamdan Mahmudi kan ? ” tanya Said. “ Iya akh ”, jawabku singkat. Rupanya Rajab sudah memberitahu kakaknya akan kedatanganku kerumahnya. Aku dan Rajab sudah disiapkan kamar untuk istirahat. Rumah Said cukup besar. Ada lima kamar di dalamnya. Anaknya baru satu umur lima tahun istrinya orang bogor. Mereka bertemu jodoh saat di Al Azhar Kairo. Selesai sarapan pagi aku minta izin pamit pada Said dan Rajab. Sedangkan Rajab akan tinggal dulu untuk beberapa hari di Jakarta.
Aku tidak langsung pulang ke rumahku di Nganjuk Jawa Timur, tapi aku ingin mampir silaturrahim dulu di rumah saudara misanku mas Shadiq namanya. Rumahnya di Bekasi. Sudah lama aku tidak bertemu dia. Terakhir bertemu saat aku masih kelas dua SD. Aku juga belum tahu alamat rumahnya. Hanya berbekal nomor telepon yang kuperoleh dari mas Basuki adik mas Shadiq yng ada di kampung. Konon dia sekarang menjadi seorang jurnalis senior dan punya majalah sendiri. Teman-temannya banyak para artis dan habaib. Sebelum berangkat aku telepon dulu mas Shadiq. Aku yakin dia pasti sudah pangling denganku yang dulu masih umbelen kini sudah dewasa dan tamat sarjana.
Aku ingin berhemat naik bus kota akan tetapi barang bawaan cukup banyak maka kuputuskan untuk taksi ke Bekasi. Kebetulan hari ini hari minggu jalanan agak lengang sehingga taksi bisa meluncur cepat sampai ke Bekasi.
Sesampainya di depan perumahan persada kemala taksi langsung masuk dan berhenti di depan rumah jalan Taman Tempo no 08. Aku turun dari taksi dan kuucap salam. “ Assalamu’alaikum ”. Dari dalam rumah terdengar suara wanita menjawab, ” Wa alaikum salam “. Begitu pintu dibuka aku t erkejut dan diapun bertanya, ” Mas ini siapa dan mau bertemu siapa ? ”. Aku bingung karena yang ada di rumah mas Shadiq itu seorang wanita cina. Dalam hatiku berkata, apa aku salah rumah ya, kalau jalan dan nomernya betul, tapi kok yang ada wanita cina, padahal istri mas Shadiq dulu wanita jawa yang sangat halus dan lembut budi bahasanya. Aku masih bingung dan belum sempat menjawab pertanyaan wanita tadi sehingga diapun mengulangi pertanyaanya,
“ Mas ini mencari siapa? ”,
Aku sedikit gugup kujawab, ” Ma.. ma’af Bu apa ini benar rumahnya Mas Shadiq? ”,
” Ya benar, tapi Mas ini siapa ya? ”,
“ Saya Hamdan Mahmudi Bu saudara misan Mas Shadiq dari Nganjuk, saya cucu Mbah Dollah ”,
“ Ya sudah, Mas tunggu sebentar dulu saya telepon dulu, bapak masih di kantor ”,
“ Iya Bu ”,
Aku masih bingung dengan kejadian ini. Dalam hatiku bertanya-tanya siapakah wanita cina ini dan apakah ini benar rumah mas Shadiq atau aku salah alamat. Aku masih berdiri di depan pintu gerbang sambil menunggu wanita itu selesai telepon dan sesekali aku menoleh pada sopir taksi. Kuminta ia sabar sebentar menunggu kepastian dari wanita tadi.
Aku sangat maklum di kota besar tidak boleh sembarangan dan mudah percaya begitu saja dengan orang yang baru kenal. Banyak kejahatan terjadi akibat perkenalan singkat ala SKSD . Ada orang yang kelihataanya baik memberi makanan ringan atau minuman ternyata ada obat bius sehingga semua harta yang ada dijarah olehnya. Atau ada orang yang sok akrab mengajak bicara ternyata dia punya ilmu gendam atau hipnotis sehingga dengan tanpa sadar menyerahkan semua harta yang ada.
Beberapa saat kemudian wanita cina tadi datang menghampiriku, ” Mas Hamdan, monggo silahkan masuk dulu, masnya sampean masih kerja dan sebentar lagi pulang ”, kata wanita tadi dengan lemah lembut tidak seperti tadi waktu pertama bertanya. Aku bergegas menurunkan koperku dan membayar argo taksi lalu masuk rumah mas Shadiq. Lega rasanya hatiku. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu yang cukup besar. Hiasannya banyak seni-seni cina seperti tulisan dinding yang digantung berhuruf cina, lampion-lampion gantung dan lain-lain. Dalam hatiku bergumam aku kayak berada dalam rumah di film Wong Fei Hung saja. Aku dibuatkan minuman teh cina. Rasanya agak sepet, mungkin kurang gula, pikirku. Aku ditemui dengan ramah sekali. Seperti kata orang jawa dalam menyambut tamu, gupuh lungguh suguh .
Dalam hatiku masih bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya wanita cina ini. Mungkinkah ia pembantu mas Shadiq ataukah ia istrinya. Terus dimana mbak Zainab isteri mas Shadiq yang kukenal dulu. Aku tidak berani menanyakan hal itu. Sungguh bukan suatu hal yang sopan bila aku menanyakannya. Perilaku wanita cina ini sangat kental dengan adat istiadat jawa seakan ia seorang wanita Jawa tulen. Dalam waktu singkat aku sudah diperlakukan layaknya keluarga sendiri.
Suasana sudah cair akan tetapi aku masih belum berani membuka bicara. Wanita itu malah yang memulai pembicaraan.
“ Maaf Dik Hamdan, mas sampean tidak tahu kalau Sampean mau datang ke sini, aku juga belum pernah kenal sama Dik Hamdan, jadi mbak minta maaf atas yang tadi Dik ya ”,
“ Tidak apa-apa Bu, memang kita juga belum pernah saling kenal, dan sudah wajar kalau hidup di kota itu harus selalau waspada ”,
Tak lama kemudian ada seorang anak kecil kira-kira umur lima tahun keluar dari kamar. Ia menghampiri wanita cina tadi. Kuperhatikan raut mukanya juga oriental bahkan cina banget. “ Mami, ini siapa? ”, tanya anak kecil itu sambil menunjukkan jarinya ke arahku. “ Ini mas Hamdan ”, jawab wanita itu. “ Mas Hamdan itu siapa mami? ”, tanya anak kecil itu. Belum sempat dijawab tiba-tiba mas Shadiq sudah ada di depan pintu dan salam, “ Assalamu’alaikum ”. “ Wa alikum salam ”, jawabku. Anak kecil itu berlari menghampiri mas Shadiq. Ia minta digendong dan berkata, “ Papi itu ada mas Hamdan, mas Hamdan itu siapa sih Pi ? ”. Mas Shadiq tidak langsung menjawab ia menurunkan anak itu lalu merangkulku erat-erat. Lalu ia berkata,
” Hamdan kapan kamu datang ke Jakarta? ”,
“ Sore kemarin Mas ”,
“ O ya, gimana kabar keluarga di Nganjuk ? “,
“ Belum tahu Mas saya juga belum sampai rumah Mas ”,
“ Lho… lha kamu dari mana ini? ”,
“ Saya baru datang dari Saudi Mas ”,
“ Dari Saudi?, kamu kerja di sana? ”,
“ Tidak Mas, saya belajar di sana, saya dapat beasiswa kuliah di universitas Al Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Riyadh ”,
“ Masya Alloh jadi kamu sekarang sudah tamat kuliah dari Saudi sana? ”, kata mas Shadiq agak terheran .
“ Iya Mas ”,
“ Ambil jurusan apa? ”,
“Bahasa Arab Mas ”,
“ Wah kamu nanti bisa jadi guru bahasa Arab yang hebat Hamdan, mas bangga punya saudara kayak Kamu ”, kata mas Shadiq sambil menepuk pundakku.
“ Papi, mas Hamdan ini siapa sih Pi ? ”, tanya anak kecil tadi.
” Mas Hamdan ini saudara papi yang dari Nganjuk sana”, jawab mas Shadiq.
“ Di Nganjuk berarti dekat dengan rumah opa sama oma ya Pi ? ”,
“ Iya “, jawabnya singkat.
“ O ya kamu datang sudah sejak kemarin sore, terus kenapa kamu nggak langsung ke sini Hamdan, Semalam kamu nginap di mana ? ”, tanya mas Shadiq.
“ Anu Mas, aku diajak nginap dirumah kakak temanku Rajab, dia teman di Saudi dari Makassar kebetulan kami pulang bareng ”, jelasku.
“ Di mana itu ? ”,
“ Di Buncit Raya Mas ”,
“ Ya sudah aku ganti baju dulu ”, kata mas Shadiq lalu menuju kamar dan wanita cina itu juga pergi ke dapur membuatkan minuman teh buat mas Shadiq.

Kuperhatikan foto-foto yang terpajang di dinding. Banyak sekali foto-foto mas Shadiq bersama artis-artis terkenal seperti bang haji Rhoma Irama, Meggy Z. Mansyur S. Juga foto-foto bersama para ulama’ dan habaib seperti KH. Zainudin MZ., Habib Ahmad bin Jindan, habib Zainal Al Idrus dan masih banyak lagi yang belum aku kenal. Di rak bupet kulihat ada banyak sekali majalah-majalah zaman dahulu juga buku cerita Rama Shinta, Mahabharata dan masih banyak lagi semuanya masih terawat dan tertata rapi. Di bupet sebelah utara ada banyak kepingan piringan hitam yang masih terbungkus rapi lengkap dengan covernya. Kuperhatikan kebanyakan lagu-lagu india dan lagu tempo dulu seperti lagu-lagu A.Kadir dengan orkes melayu Sinar kemalanya juga Ida Laila dengan Awaranya. Di pojok ruangan ada dua mesin gramaphon yang masih terawat bagus, mesin ini adalah untuk memutar piringan hitam. Seperti CD player zaman sekarang.
Tak lama kemudian mas Shadiq keluar kamar bersamaan wanita cina itu juga keluar dari dapur sambil membawa teh. Setelah duduk sambil minum teh mas Hamdan memperkenalkan aku dengan wanita cina tadi.
“ Hamdan, ini istriku sekarang, lha ini anakku. Mungkin kamu belum kenalan dengan mereka. Mbakmu yang dulu, Zainab sudah dipanggil Alloh sepuluh tahun yang lalu dalam kecelakaan waktu pulang kerja dan tidak bisa diselamatkan ”,
“ O… begitu Mas, aku turut berduka mas semoga mbak Zainab diterima di sisi Allah Amiin ”,
“ Aku tadi juga sempat kaget Mas, kok bukan mbak Zainab yang ada di rumah ”,
Aku jadi tahu kalau wanita cina itu adalah isteri mas Shadiq. Mas Shadiq lalu melanjukan bicaranya,
” Mbakmu yang sekarang ini, namanya Marlena, dan si kecil ini putriku dengan mbak Marlena ”,
Aku manggut-manggut.
“ Dia memang wanita cina, dulu dia seorang suster di gereja, setelah kenal mas dia lalu jadi mu’alaf dan kemudian aku nikahi tujuh tahun yang lalu, si kecil ini namanya Lidya ”.
Aku hanya diam mendengarkan cerita mas Shadiq.

************

+ posts

Mungkin Anda juga menyukai

Anda punya pendapat untuk artikel ini ? Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: