Larva atau maggot lalat hitam sebagai solusi mengatasi masalah sampah

Di pekarangan rumah yang tidak begitu luas Sudi Waluyo Seorang warga Simo Pomahan Baru Surabaya Jawa Timur membudidayakan Larva atau maggot lalat hitam, dengan menggunakan sebuah sangkar sederhana ia mengembangbiakkan ribuan serangga. Lalat yang bernama latin hermetia itu bertelur di sela-sela tumpukan kayu yang diletakkan di dasar sangkar setelah satu minggu telur itu lantas menetas menjadi belatung larva.

Larva yang dihasilkan inilah yang memakan sampah organik, 20 hari sebelum menjadi pupa larva memakan segala jenis sampah basah 1 gram sanggup menghabiskan 2 sampai 4 Kg sampah dalam hitungan jam ini hanya hidup 4 hari sampai 7 hari saja setelah kawin dan bertelur lalat ini mati siklus hidup lalat lebih lama saat dari telur sampai menjadi larva yang mengeras sebelum berubah menjadi lalat total Proses ini berlangsung selama 40 hari budidaya lalat hitam ini.

Pada awak media Sudi Waluyo menyampaikan : “Awalnya kita itu tidak ada rencana untuk beternak maggot larva ini, saya sebenarnya peternak iken lele namun saya merasa harga pakan ikan lele yang terlalu mahal, lalu kita coba bagaimana mengurangi cost biaya untuk lele itu, sekalian tak memperhatikan di lingkungan kami ini banyak sampah yang itu sangat mengganggu bau walaupun kebersihan kampung setelah saya ikuti dari perkembangan ikuti dari media sosial itu ternyata di situ ada pakan alternatif yaitu sejenis Larva ulat maggot mereka perlu makan itu dari sampah artinya kalau kita hubungkan antara sampah dengan keperluan yang kita butuhkan untuk biaya pemotongan cost biaya lele dari kita timbul untuk berusaha peternak maggot ini.

Sudi kemudian mengedukasi tetangganya yang menyediakan bak sampah di depan rumahnya sampah sisa makanan Tetangga yang kemudian Ia berikan ke magot, bila ada warga yang ingin memelihara magot untuk mengolah sampah secara mandiri Pak Sudi akan memberikan nya secara cuma-cuma Bahkan ia akan membeli kembali magot Yang sudah berusia 2 minggu.
Salah satu tetangga Sudi Waluyo yang sudah ikut beternak magot mengatakan : “Sampah organik bisa kita buat makanan maggot, jadi sampah yang masuk ke sampah biasa itu hanya sampah kering untuk sampah organiknya dimasukkan untuk makanan maggot dan kita bisa setoran ke Pak Sudi untuk tambahan perekonomian Saya di rumah”.
juga dimanfaatkan untuk pupuk dan pakan ternak juga hanya menjual 30% ke berbagai daerah dengan harga Rp10.000 per 1 kilogramnya ikan dan sisanya dia fokuskan untuk masalah sampah rata-rata 1rumah bisa mengurangi sampah sampai setengah kg tanpa harus berakhir di tempat pembuangan sampah baginya mengatasi sampah menjadi hal utama di rupiah yang didapat adalah bonusnya. Surabaya Jawa Timur – CNN.

Mungkin Anda juga menyukai

Anda punya pendapat untuk artikel ini ? Silakan berkomentar